HARUS aku akui, kini aku semakin merasa asing dengan puisi, o, Penyairku. Kata-kata yang bergerombol dalam kuplet-kuplet itu tampak begitu aneh dan artifisial. Apakah ini suatu kemunduran apakah ini kemajuan tidaklah jelas benar bagiku. Catatan ini pun semakin kering dan jauh dari kebijaksanaan seorang (bekas?) penyair yang menapaki usia kepala-abu-abu. Dulu pernah kuyakini puisi takkan ...
BEGINILAH, o Penyairku, bila kau tak lagi mampu menulis satu sajak pun dalam kurun waktu cukup lama, lalu kau mulai mencari-cari alasan untuk memaafkaan dirimu sendiri seperti tenggelam dalam rutinitas kerja, atau otakmu mulai tumpul karena termakan usia, atau karena merasa gagal menyegarkan gaya bersyairmu, atau alasan apa pun, maka barangkali saatnya tiba untukmu kembali ...
MOHON maaf bagi rekan-rekan sahabat TITIKNOL bahwa saya sekian lama mengabaikan studio puisi ini. Insya Allah, sedikit demi sedikit akan saya coba gairahkan kembali.
Rubrik SERAT koran Suara Merdeka edisi Minggu, 10 Juni 2012 telah memajang empat sajak TS Pinang berjudul: Kuda Lumping, Kayon, Prambanan dan Keraton Baka. Selamat menikmati!
kami bertimpuh di hamparan puing, latar batu yang tercipta dari hati yang pedih dan air mata yang terperam dendam. gerbang-mu yang murung, menghitung senja demi senja bersama kicau burung penjaga bukit. puing-puing bergeming. angin menjadi hidup dan berjiwa. senja selalu terduduk bersama alunan gending megatruh, tak bertulang, lunglai dalam samadi pemunah dendam yang masih mengapi. ...
kebisuan itu bukanlah makam atas ambisi tak sampai. kebisuan itu adalah monumen doa yang beku oleh kabut Merapi. pori-pori di kulit bebatuan gunung inilah lubang nafas kami yang selalu kami samarkan dalam hembusan sepoi ke kulit para turis yang mengeluhkan panas mentari tropika. sesekali kau mungkin rasakan usapan dingin hawa nafas Durga di selang-selingi tabuhan ...
KORAN TEMPO edisi Minggu, 22 April 2012 memuat dua sajak lama TS Pinang berjudul Macapat Megat Rupa dan Macapat Batu Kambang. Selamat menikmati.