RRI Pro 2 Jogja bicara Kunci
RABU malam, 19.30 - 21.30 (mulur 30 menit dari 1,5 jam yang dijadualkan menjadi 2 jam karena respon pendengar yang cukup antusiastik), buku himpunan puisi TS Pinang "Kunci" diobrolkan di acara BOOK REVIEW RRI Pro 2 Jogja bersama TS Pinang dengan host Eddy Yono. Lima sajak dari album Kunci ini dibacakan dalam acara tersebut, dan dua buku Kunci dari Omahsore menjadi cindera mata bagi pendengar paling aktif berinteraksi sepanjang acara.
25/06/2009 - 08:59:19
Kompas Minggu, 21 Juni 2009
Kompas Minggu, 21 Juni 2009 memuat sajak-sajak TS Pinang berjudul Bibir Kota, Kaki Lima dan Bakteria Kota.
22/06/2009 - 09:17:02
K u n c i
TELAH terbit buku himpunan puisi TS Pinang, Kunci (Omahsore, 2009). Buku ini TIDAK didistribusikan melalui jaringan toko buku besar di Indonesia. Untuk pemesanan hubungi penerbit Omahsore (omah_sore@yahoo.com). Harga Rp 30.000,00 + ongkos kirim.
02/06/2009 - 07:52:40
TITIKNOL di Koran Tempo
Sajak-sajak TS Pinang berjudul Kartograf, Trotoar dan Vredeburg hadir di Koran Tempo Minggu, 5 April 2009, walau ada kesalahan penulisan judul oleh editor koran tersebut pada sajak Vredeburg (tertulis Vredenburg).
06/04/2009 - 05:21:51
Berita Jeda
TSP is not participating in Utan Kayu Literary Biennale 2009 and meditating on the ancient tree instead.
14/03/2009 - 10:30:48
Selamat Ulang Tahun, Bojoku Sayang...
TITIKNOL meniupkan doa ulang tahun lewat kabut mendung dan hujan dari lereng Gunung Ungaran bagi separuh jiwanya yang sedang menunggui tunas cintanya di rumah sewa yang dingin. Semoga sehat wal-afiat dan sejahtera lahir dan batin.
10/02/2009 - 00:00:00
Sugeng Warsa Enggal
TITIKNOL hangaturaken sugeng warsa enggal 1942 Je, ingkang dhawah dinten Senen Legi/Selasa Pahing, 1 Sura. Mugi kalis ing sesuker lan sadaya sambikala.
30/12/2008 - 19:05:10
TITIKNOL di Jurnal Nasional
Junal Nasional edisi Minggu, 16 November 2008 memajang Sumur, Regol, Cellar, Musala, Loteng, Dapur dan Beranda.
16/11/2008 - 13:07:58
TITIKNOL tidak menerima kiriman naskah untuk dimuat, kecuali tulisan tentang karya-karya TS Pinang dan/atau dipersembahkan khusus untuknya. TITIKNOL adalah sebuah situs pribadi.
TITIKNOL enak disajikan di Browser dengan Flash Plugin pada 800.600+
maka kami mencoba ingkari setiap kali, kota kami sungguh rajin menyakiti tubuhnya sendiri. inikah akibat diet tak sehat bertahun-tahun, lalu kini panen penyakit dan organ yang malfungsi? jalanan yang berlubang belum lagi ditambal rapi, jalanan yang rapi digali-gali setiap kali. kami coba abai dan menganggap inilah cara kota kami merawat diri: kompromi dengan infus investasi.
masterplan kota kami tanpa rencana. seperti seniman atau penyair setengah jadi: merayakan kemerdekaan setiap hari sebagai topeng kegagalan menaklukkan waktu, menjinakkan diri. lajur jalanan kami yang tepi telah penuh kabel tegangan tinggi dan pipa distribusi air minum kami, kini besi-besi pemotong aspal dan beton mengiris mengelupas lajur tengah, menanaminya dengan serabut optika untuk memanjakan telefon di genggaman kami.
jangan tanyakan kapan kota kami menanam hutan di dada kota, dan taman untuk anak-anak kami bermain bola kasti. kota kami sedang sibuk menanam kabel, pontang-panting menjinakkan kolesterol tubuhnya yang kian tak terkendali.
20.06.2009
Wisata Belanja: Pasar Klithikan
siapa mencari akan mendapati. di tepi-tepi jalanan kota, kami gelar sisa-sisa. ampas dari yang pernah singgah dalam catatan belanja, kini tertebar pada selembar tikar, mencoba berkelit menjadi sia-sia.
kaca spion dan lingkar roda kami punya, bila kau mencari cara menengok kembali yang tertinggal di punggung silam atau menggelindingkan ingatan ke jalanan berlubang di mana kau pernah tumbang dari sepeda motormu. lampu senter dan keris tua, bila engkau ingin menelisik rahasia malammu namun jerih bila tak bersenjata. shockbraker kompetisi dan tachometer, bila kau cemas dengan degup jantungmu yang kurang gegas. kami gelar semua yang tercerai dari ingatan, kami kumpulkan kembali bagi siapa saja yang rela membeli usia.
di sinilah kami berniaga dengan waktu, tawar-menawar yang lama dengan yang baru. sebab kami meyakini siapa mencari akan mendapati, maka suatu saat nanti kau pasti datang kepada kami.
mencari jejak-jejak kaki yang hilang tanpa kau sadari.
Bila sajak diibaratkan manusia, ia hendaklah terbangun dari unsur-unsur tubuh (fisika), jiwa (psika), dan ruh (spirit). Tubuh sajak mengejawantahkan unsur-unsur yang kasat mata, ujud bahasa secara wantah. Jiwa sajak memancarkan tafsir makna, rasa emotif, duga-sangka logika, gejolak, suasana kepada indera pembaca. Ruh sajak tak muncul dalam sajak tetapi ia laten dan hanya dapat dirasakan oleh ruh pembaca. Ruh sajak, karenanya, tak selalu terbaca tak selalu terasa. Hanya pembaca dengan kepekaan ruhani saja yang dapat menerima pantulan cahayanya.
Tentu saja perihal ruh sajak ini boleh dimasukkan ke ranah mistik, wilayah "kesadaran tinggi", dan boleh dinafikan oleh penikmat erotika bahasa dan gairah jiwa sajak semata. Ruh sajak boleh dianggap tiada oleh mereka yang belum sampai kepada pengalaman ruhani puisi, atau mereka yang secara sadar menyandarkan diri pada tubuh dan jiwa sajak semata, pada bentuk dan isi saja. Tak jarang, entah penyair entah pembaca syair merasa sudah bersentuhan dengan ruh padahal sesungguhnya mereka baru berasyik-masyuk dengan psikologi sajak. Pada kenyataannya, banyak penyair sengaja membatasi kerja puitiknya "hanya" pada tataran bentuk dan isi semata, tubuh dan jiwa sajak saja, bahkan ada yang terang-terangan berkukuh di makam tubuh atau bentuk belaka. Semua pilihan tentu kembali pada diri.
Saya menduga, urusan mistika sajak ini tak bisa direkayasa kemunculannya dalam sajak. Ia adalah pancaran dari kesadaran ruhani sang penyair (dan kejernihan cermin kalbu pembaca). Walau ruh, jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan kodrati, tak serta-merta kehadirannya bisa utuh dalam satu kesatuan sebab kepaduan ketiga unsur hidup ini sangatlah ditentukan oleh tingkat kesadaran ruhani seseorang (dalam hal sajak, penyair). Sebagaimana tak semua orang dapat menampilkan pancaran sinar ruhaninya, demikian pula tak semua sajak berhasil memendarkan ruh--kebanyakan hanya melenggangkan tubuh dan gelora erotika puitik sahaja.
Pertama-tama, menulislah karena cinta. Berikutnya baru menulis untuk tujuan yang lain, entah untuk bersenang-senang belaka, mencari nafkah atau ketenaran, memengaruhi orang, atau apapun. Ketika tujuan-tujuan yang lain itu gagal atau tak tercapai, minimal kau tidak berhenti menulis karena masih ada kecintaan.
Menjadi dikenal adalah bagian dari proses, bukan tujuan menulis. Mengirim karya ke media, syukur jika dimuat (dan dapat honor sebagai bonus), adalah proses untuk menguji karya itu sendiri secara nyata, bukan sekedar menguji dengan pendapat kawan sendiri. Sekali lagi, ini adalah bagian dari proses kreatif, bukan tujuan.
Karena kau menulis sebab cinta, sampai di manapun kau tak akan mudah lena oleh pencapaian-pencapaianmu sendiri. Sebab kau tahu sedari awal, itu semua bukanlah tujuanmu menulis.
Tujuanmu menulis semestinya adalah untuk memuliakan kemanusiaanmu, menjadikanmu lebih bersyukur dan berbahagia dengan hidupmu. Dan tujuan itu hanya tercapai jika kau tenagai tulisanmu dengan kecintaan, bukan dengan beban tujuan-tujuan jangka pendek yang hanya untuk memuaskan ego saja.
Bersyukurlah kau tidak buta aksara. Ujudkan rasa syukurmu itu dengan memelihara kesukaanmu pada bahasa, salah satunya dengan menulis. Jika kau memang memutuskan untuk menulis, bacalah kembali pernyataan nomor 1 di atas.
Kadang kita terjebak pada gagasan bahwa kita menulis sajak untuk dinikmati orang lain, dinikmati oleh pembaca-pembaca sajak kita itu. Bayangan pembaca yang menunggu, membaca, lalu bereaksi atas sajak-sajak yang kita tuliskan lama-lama menjadi semacam candu. Tak jarang pula komentar dari pembaca-pembaca (yang kita anggap) kuat meninggalkan dampak pada sikap kreatif kita, pada cara kita bersajak berikutnya. Belum lagi pembaca-pembaca murah hati yang obral dengan puji-pujian yang cenderung memabukkan, membuat kita ketagihan lalu cenderung menuruti hasrat memperoleh lebih banyak lagi pujian.
Penyairku, beranikah kau meninggalkan pembacamu? Beranikah kau meninggalkan pembacamu? Beranikah kau?
SEMUA
KARANGAN DI SITUS INI ADALAH HAK CIPTA TS PINANG KECUALI PADA HALAMAN TRIBUTE. PENGAMBILAN NASKAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN
HARUS DENGAN IJIN PENGARANG.
TITIKNOL Project adalah sebuah proyek pribadi TS Pinang,
seorang pecinta puisi yang lebih suka bermain dengan medium website
internet. Semula TITIKNOL Project dimaukan untuk dokumentasi naskah-naskah
tulisan TSP sendiri sebelum akhirnya berkembang dengan proyek-proyek
lainnya yang dikerjakan secara amatir, secara pecinta.