-
Kayon
inilah saatnya Engkau tancapkan Merapi di sebatang debok pisang, penanda akhir babak semalam suntuk kisah bumi yang gonjang-ganjing, punakawan yang bercanda dengan derita dan sakit hati para kawula, para ksatria yang mengumbar tawa lupa papa lupa tapa dan para resi telah bersumpah mengikat lidah mereka dengan mantera pembisu seribu generasi. tragedi sang bumi yang pasi dikutuk sepi, menggigil rindu mentari yang kian redup kehabisan api tersebab terlalu banyak hati yang harus dipanasi.
inilah saatnya Engkau ketukkan cempala, sebab nyala blencong telah musnah ditelan lubang-lubang gulita di luweng hasrat kami yang paling tersembunyi. gending-gending telah tamat dan para niyaga terkapar sirep. lalu apakah arti sebuah negeri bila semua menjadi bayang-bayang? lelakon yang kian bias sebab tak ada lagi tersisa kata-kata yang lugas. hukum menjelma hutan raksasa kata-kata penuh kias.
inilah saatnya Engkau tancapkan gunungan itu, sedikit condong sekedar cukup untuk menandai kisah yang tak lagi layak ditegakkan, babak yang tak lagi elok dilanjutkan. sebab harap dan air mata telah rontok pergi. seperti dedaunan terberai terbang bersama angin.
-
Kuda Lumping
negeri kami telah direbut oleh gerombolan hantu. surup dalam tubuh anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen. pasukan monster bayang-bayang mengintai di langit, menjadi mendung gelap menyimpan hujan yang siap merajam wajah-wajah kami. bahkan mantera lingsir wengi, kidung ambang malam, tak mampu mengusir hantu-hantu yang merasuki anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen.
negeri kami menjadi negeri kuda lumping. rakyat seluruh negeri menari dalam igau dan makan beling. topeng-topeng bujang ganong berkelebatan di layar televisi, memanterakan pukau dan sihir membuka gerbang masuk ke negeri mimpi tanpa pintu keluar. hong wilaheng. bilah-bilah pisau menggantikan lidah para menteri. kami terjebak di negeri ambang senja.
2.
kuda bambu kepang bergetar, para penari berlenggak-lenggok dalam ketukan kenong, ning-nong-ning-nong-ning. asap dupa dan air mawar melati, lupakan harga bensin dan aroma nasi yang kian mengepul tinggi, terhisap para dedemit yang bersemayam di langit. para penari menari tanpa henti. penonton ikut menari tanpa mengerti. pawang-pawang kesurupan pula, mantera-mantera mereka lesap di rimbun bayang-bayang.
3.
penyair, o penyair penguasa alam bayang. lecutkan cambukmu. usir para hantu dari rimba kata-kata. jangan biarkan mereka merebut puisimu.
-
Musim Pertama
: Tulus Widjanarko
di negeriku sudah tak ada kartupos untuk mengabarkan musim-musim yang berlari lebih cepat dari lamunan. setiap sajak yang kubajak selalu gagal membenihkan kecambah kenangan menjadi bulir-bulir puisi. inilah kita, terjebak di rimbun embun yang buru-buru lenyap sebelum sempat kita taklukkan jernihnya yang anggun.
di negeriku sedang musim pertama tahun ini. tahun di mana kata-kata telah lelah dan leleh menjadi lolong tangisan. hujan tak lagi tawar, tak lagi asam, tak lagi air. hujan kini kian liar, kini kian kejam, kini kian airmata. sajak ini kucatat dengan kata-kata yang selamat, dari amis musim yang bernanah: abses di kelamin puisi akibat zinah.
di negeriku aku mencoba bertahan untuk tidak selingkuh. begitu banyak paha dan dada menantang puisiku serupa lirikan gadis. kucoba tetap kukuh, sebagaimana batang jati di musim-musim yang pernah kita kenangkan setiap subuh jatuh. kudengar kabar, banyak negeri yang bubar tersebab tapa yang cabar. baiklah kita coba bertetap, di musim apapun, di negeriku yang gemetar, negerimu yang telantar.
di negeriku musim pertama kini. musim yang basahnya menggigilkan mimpi. kini aku sedang belajar menghitung pucuk-pucuk lancip daun bambu cina yang kubayangkan di pagar depan rumah, tempat sajak-sajakku kutitipkan hingga hujan reda. sebab di musim pertama setiap tahun aku mencatat, airmata mengembun genangi dada. sedangkan kita setiap kali mencoba mencari kisah yang beda. hingga hujan reda.
2008-2012
-
120. Ruh, Jiwa, dan Tubuh Sajak
Bila sajak diibaratkan manusia, ia hendaklah terbangun dari unsur-unsur tubuh (fisika), jiwa (psika), dan ruh (spirit). Tubuh sajak mengejawantahkan unsur-unsur yang kasat mata, ujud bahasa secara wantah. Jiwa sajak memancarkan tafsir makna, rasa emotif, duga-sangka logika, gejolak, suasana kepada indera pembaca. Ruh sajak tak muncul dalam sajak tetapi ia laten dan hanya dapat dirasakan oleh ruh pembaca. Ruh sajak, karenanya, tak selalu terbaca tak selalu terasa. Hanya pembaca dengan kepekaan ruhani saja yang dapat menerima pantulan cahayanya.
Tentu saja perihal ruh sajak ini boleh dimasukkan ke ranah mistik, wilayah “kesadaran tinggi”, dan boleh dinafikan oleh penikmat erotika bahasa dan gairah jiwa sajak semata. Ruh sajak boleh dianggap tiada oleh mereka yang belum sampai kepada pengalaman ruhani puisi, atau mereka yang secara sadar menyandarkan diri pada tubuh dan jiwa sajak semata, pada bentuk dan isi saja. Tak jarang, entah penyair entah pembaca syair merasa sudah bersentuhan dengan ruh padahal sesungguhnya mereka baru berasyik-masyuk dengan psikologi sajak. Pada kenyataannya, banyak penyair sengaja membatasi kerja puitiknya “hanya” pada tataran bentuk dan isi semata, tubuh dan jiwa sajak saja, bahkan ada yang terang-terangan berkukuh di makam tubuh atau bentuk belaka. Semua pilihan tentu kembali pada diri.
Saya menduga, urusan mistika sajak ini tak bisa direkayasa kemunculannya dalam sajak. Ia adalah pancaran dari kesadaran ruhani sang penyair (dan kejernihan cermin kalbu pembaca). Walau ruh, jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan kodrati, tak serta-merta kehadirannya bisa utuh dalam satu kesatuan sebab kepaduan ketiga unsur hidup ini sangatlah ditentukan oleh tingkat kesadaran ruhani seseorang (dalam hal sajak, penyair). Sebagaimana tak semua orang dapat menampilkan pancaran sinar ruhaninya, demikian pula tak semua sajak berhasil memendarkan ruh–kebanyakan hanya melenggangkan tubuh dan gelora erotika puitik sahaja.




