SURAT KEPADA PINANG

“ If you wish to know the mind of a man, listen to his words “

Membaca puisi-puisi Pinang, mengingatkan saya pada pepatah Cina di atas. Namun, mengenal pikiran ternyata tak mudah, terlebih apabila merabanya dari puisi. Mudah-mudahan kalimat-kalimat saya berikut ini memiliki arti, paling tidak, untuk Pinang, sahabat yang baik.

Dalam beberapa puisi bergaya free-verse karya Pinang, saya temukan nuansa spiritual yang cukup pekat. Lihat puisi dalam barisan “Jurnal”:

biarkan hatimu lebih keras bicara
bukankah telah lama tak kaudengar ia

Dalam penggalan bait puisi di atas, selain efek spiritual yang ditimbulkan, juga terasa indahnya irama musical yang ditimbulkan dari vokal akhir yang sama.

Aura spiritual yang sama dapat dirasakan juga dalam puisi “Menggambar Malam”:

kupernah coba menggambar malam
meski kuhabiskan berbatangbatang arang
tak cukup mampu mengatakan kelam

kupernah coba menulis mimpi
meski habis asap ratus dan jampijampi
tak cukup sepi untuk terdengar hati

Suasana sedih yang mungkin menjadi latar belakang pembuatan puisi ini, telah menimbulkan efek lainnya yang lebih krusial, yakni pengakuan kebesaran Allah, bahwa tak ada sesuatupun yang mampu melebihi kekuasaan Allah.

Namun, dari segi irama, dalam puisi di atas ini terasa sekali kejanggalan yang diakibatkan oleh pemilihan idiom yang kurang seirama antara baris kedua pada bait pertama dengan baris kedua bait kedua. Ilustrasi dengan metaphor yang berbeda kharakter seperti ini bisa mengganggu keindahan sebuah irama. Penggunaan mixed-metaphor dalam sebuah puisi tidaklah salah, sepanjang isinya menanggung fungsi yang memang diperlukan untuk membuat puisi tersebut “bicara”.

Di antara puisi-puisi Pinang, ada sebuah barisan kata yang sangat berkesan bagi saya, yakni nukilan dari puisi “(Tanpa Judul)”:

selain air mata
telah kosong botol tintamu
berlembar-lembar halaman buku
tanpa satupun kalimat berhasil kau tuliskan

Terbaca dalam puisi ini, suatu keadaan putus-asa yang dalam, namun Pinang mampu melukiskannya dengan lembut dan indah, tanpa perlu merengek kesedihan dari pembaca.

Kelembutan dan keindahan yang sama juga dituangkan Pinang dalam puisi “Surat untuk Kawan Jauh”:

biarlah mereka minum bara
kita cukup embun

Dalam larik di atas, ditemukan nonce-symbol, yang menjurus ke suatu keadaan khusus, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa kalimat kalimat ini sungguh indah dan mampu membawa emosi ke suatu tingkat redam. Inilah salah satu ciri puisi yang baik, yakni mampu menjadikan sesuatu atas pembaca, baik imajinasi, perasaan, maupun pikiran dan pemikiran.

Pengungkapan dengan memaksimalkan kejelian nampaknya adalah kekhususan Pinang. Coba baca “Percakapan Dini Hari”:

tubuhmu menggigil oleh deru angin salju
sedingin itukah dendam rindu?
perapianku cukup hangat, jika saja engkau datang sebagai tamu,
bukan hanya bayangan di ambang pintu

tolong matikan lampu itu
biar bayang-bayang mati

Pinang betul-betul mengenal sifat manusia, seperti penggambarannya akan keangkuhan, yang ditulisnya dengan baik sebagai “bayangan”.

Alam juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia seorang Pinang. Ia sungguh mengenalnya. Dalam puisi “Cerita Pagi”, dapat dijumpai kata-kata seperti:

pagi ini tak ada angin tidak juga matahari
mega-mega masih putih menggantung sepi yang biasa

atau:

air kali masih tidur
sebatang pokok pagi itu bisu
begitu dari dulu

dan juga:

sebongkah batu begitu dingin
masih terlalu pagi untuk sebuah keramahan

Tampak di sini dengan jelas, bahwa puisi bukanlah bentukan suatu masa atau tempat tertentu saja, tetapi ada keunikan suatu pribadi yang terlibat dalam sebuah puisi.

Selain kelembutan yang dengan mudah dapat kita rasakan dalam puisi-puisi Pinang, saya juga menemukan suatu keteledoran dengan mengabaikan musical rhyme sebuah puisi. Suatu bagian puisi akan mendukung seluruh sifat puisi tersebut, demikian pula sebaliknya. Irama hanyalah sebagian dari puisi, namun ia bisa mendukung sebuah puisi untuk mencapai keindahannya.

Dari sekian puisi, nampaknya Pinang masih kesulitan menemukan warnanya sendiri. Tahap eksperimen adalah tahap yang mencengangkan, betapa kita bisa berekspresi dengan berbagai bentuk, dan tiba-tiba menjadi orang lain. Pada tahap ini, seringkali seorang penulis diracuni oleh kebanggaan bisa “menjadi” seseorang yang lain. Tetapi tahap yang paling sulit adalah tahap menemukan warna. Warna inilah yang akan membawa perbedaan antara satu penulis dengan yang lain.

Bagaimanapun, kehadiran Pinang di khasanah sastra Indonesia sangat menggembirakan. Mudah-mudahan terus melangkah, meninggalkan batu sandungan sebagai kenangan, seperti dituliskan dalam “Adinda”:

kautinggalkan sekerat hati untukku, kutahu
(akan kubingkai nanti bersama masa kecil kita)

Selamat berkarya, Pinang, sahabat yang baik.

Jakarta, Juli 2001

Dari sekian puisi, nampaknya Pinang masih kesulitan menemukan warnanya sendiri. Tahap eksperimen adalah tahap yang mencengangkan, betapa kita bisa berekspresi dengan berbagai bentuk, dan tiba-tiba menjadi orang lain. Pada tahap ini, seringkali seorang penulis diracuni oleh kebanggaan bisa “menjadi” seseorang yang lain. Tetapi tahap yang paling sulit adalah tahap menemukan warna. Warna inilah yang akan membawa perbedaan antara satu penulis dengan yang lain.

Reply