Membaca “Musafir Sendiri yang Mencintai Puisi”

aku datang kepadamu dengan puisi

sebagai musafir haus yang letih, aku terhenti

di persinggahan yang kau tawarkan

agar letih bisa sejenak kusampirkan

puisi mengajarkanku tentang cinta

nama lain dari khianat dan luka

maka biarlah kuteguk selodong nira

sebagai perayaan kita atasnya

aku pergi dari kamarmu dengan puisi

setelah kita lelah dalam pergumulan terakhir

dan aku akan kembali jadi musafir

melanjutkan pencarianku sendiri

mungkin akan kutemukan puisi sejati

kelak, bila usai perjalanan ini

Sebuah sajak lengkap yang saya kutip di atas adalah karya sastrawan kontemporer Yogyakarta TS Pinang (tidak ada hubungannya dengan TS Elliot, tapi sesama penyair adalah saudara) yang mengaku-aku dirinya sebagai calon penyair.

Saya menilai, dari pengakuannya itu, TS Pinang sama gilanya dengan Sutardji Calzoum Bachri. Kalau Tardji mengaku dirinya sebagai penyair yang sudah jadi, yakni sebagai Presiden Penyair Indonesia, Pinang mengaku dirinya sebagai penyair yang terus berproses, seolah-olah dirinyalah satu-satunya penyair yang tengah berproses, sehingga menafikan Nanang Suryadi, Tulus Wijanarko, Hasan Aspahani, dan bahkan Sutardji Calzoum Bachri yang juga berproses terus-menerus dalam mencipta.

TS Pinang, dalam puisi yang memanfaatkan judul yang terang-benderang, “Musafir Sendiri yang Mencintai Puisi”, memperlihatkan potret dirinya sebagai manusia musafir (tidak ada manusia yang bukan musafir) yang mencintai puisi.

Sebagai manusia Yogya (Homo Yogyaensis), Pinang mestinya mengenal ‘asas tunggal’ bangsa Jawa, bahwa urip mung mampir ngombe, hidup hanya mampir minum. Tapi, tampaknya penyair Pinang memberi nilai lebih dari sekadar ‘mampir ngombe’, yakni dengan mencintai puisi.

Kelakuan Pinang seperti ini mengingatkan saya pada seniman-seniman Dagadu, yang memberi nilai lebih pada ‘asas tunggal’ bangsa Jawa, ‘alon-alon waton kelakon’ yang direvisi menjadi ‘alon-alon waton on time’. Pemberian nilai lebih seperti itu, bagi saya, merupakan salah satu arti atau salah satu syarat kenapa manusia dilahirkan. Kalau manusia lahir tanpa memberi nilai lebih, ibaratnya seperti kentut.

TS Pinang jelas tidak kentut. Ia memberi nilai lebih dengan mencintai puisi, mirip dengan pamannya TS Elliot yang tinggal di Inggris, sekian kilometer dari Bantul, tempat budayawan Saut Situmorang dan pemikir postmo Luh Katrin Bandel tinggal.

Apakah dengan mencintai puisi seseorang sudah bisa dikatakan memberi nilai lebih atau nilai tambah bagi kehidupan? Presiden AS George W Bush akan menjawabnya tidak. Tapi, bagi penjual terong di Pasar Beringhardjo, mencintai puisi itu lebih mulia daripada membunuh sesama manusia.

Sutradara film Ada Apa dengan Cinta? akan menilai, apa yang dilakukan TS Pinang sudah lebih dari cukup, karena dampak dari film dewasa itu adalah tumbuhnya minat baca puisi pada siswa-siswa di Jakarta. Saya berterima kasih kepada Titi Kamal yang mencari-cari buku kumpulan puisi saya, ‘Menjelma Rahwana’ setelah ia bermain dalam film itu.

Menurut Titi Kamal, buku ‘Menjelma Rahwana’ yang diterbitkan Komunitas Bambu pada 1999 itu ditemukannya di Bandung, atas jasa seorang teman di sana.

Membaca sajak Pinang, memang terasa bahwa sang penyair memiliki potensi yang luar biasa, namun dengan kekuatan yang luar biasa pula ia berusaha merendah, seperti padi di Ungaran, Jawa Tengah, makin merunduk makin berisi makin membungkuk makin tidak kelihatan.

Puisi sejati, kata TS (Teguh Setiawan) Pinang, akan ditemui saat kita mati. Puisi-puisi Chairil Anwar lebih bermakna setelah yang mulia mati. Karena, dalam salah satu puisinya, Chairil mengatakan, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo lebih hidup setelah yang mulia mati. Sebab dalam salah satu puisinya, Subagio mengutip Beethoven, “Aku tidak bermain bagi babi-babi.”

Citayam, 29 Oktober 2002

Salam kompak,

Asep Sambodja


Membaca sajak Pinang, memang terasa bahwa sang penyair memiliki potensi yang luar biasa, namun dengan kekuatan yang luar biasa pula ia berusaha merendah, seperti padi di Ungaran, Jawa Tengah, makin merunduk makin berisi makin membungkuk makin tidak kelihatan.

Reply