11. Sajak-sajak Pendek

Sependek apakah sajak dimungkinkan?
Ada penyair yang sangat pelit dengan kata-kata. Ada penyair yang suka berpanjang-panjang dengan sajaknya. Ada penyair hebat yang menyarankan, “Seorang penyair harus mampu mengungkapkan sebanyak mungkin makna dengan secukup saja kata.”

Toh, ada juga seorang penyair yang merasa tak puas karena sajaknya cuma beberapa baris saja, padahal sajak itu sudah “berbicara”. Maka ia pun menyunting sajak itu kembali, mengembangkannya lagi dan lagi, hingga jadilah sebuah sajak yang panjangnya cukup memuaskan sang penyair. Namun, apa yang terjadi? Sajak itu menjadi cair dan kehilangan pesona.

Coba kita simak beberapa sajak pendek berikut ini:

SEPI
Medy Loekito

dua jejak bulan yang pergi

1979

IN SOLITUDE
Medy Loekito

ingin kucumbu bulan malam ini
menanggalkannya dari langit
dan membawanya dalam sepiku

1992

DONGENG RINDU
TS Pinang

di pelupuk
segenang kolam
menanti ikan

2001

Penyairku, apakah kau masih menembakkan kata-kata yang tak perlu dalam sajak-sajakmu?

2 Replies

  1. ananto prasetyo Reply

    aku menemukanmu
    setelah mata pedangku

Reply