12. Tentang Pendalaman

Banyak sajak-sajak yang “indah” ditulis orang. Banyak orang menyukainya. Lalu tiba-tiba sajak-sajak itu lenyap dilupakan. Ke mana perginya?

Banyak sajak-sajak yang indah ditulis orang. Banyak orang tak suka mula-mula, atau kesulitan memamahnya. Dan sajak-sajak itu tak juga lenyap.

Kata-kata yang indah belaka boleh jadi mempesona pembaca sepintas lalu. Namun, tetaplah “jiwa” dari puisi itu yang membuat pembaca betah membacanya, menafsirkannya berulang-ulang. Sajak-sajak yang demikian tidaklah mudah membuatnya, sebab jiwa puisi itu sesungguhnya bukan terletak pada keindahan ragawi sebuah sajak, bukan pula pada kecanggihan kata-kata yang “puitis” bak mawar melati. Ia, jiwa puisi itu, ada pada pengalaman batin sang penyair. Maka ketrampilan berdiksi, menyusun kata-kata sehingga enak dibaca, merdu didengar, hanyalah kendaraan atau baju atau kulit dari sang “jiwa”, kuil bagi ruh puisi itu.

Karena itu penyair wajib mengasah pengalaman batinnya terus-menerus tanpa pernah berhenti, meski ia telah (merasa) mencapai suatu puncak pencapaian spiritual.

Tak sedikit penyair yang berpuas diri dengan pencapaiannya, baik estetik maupun batiniah. Kemudian merasa sudah mencapai puncak tertentu. Berhati-hatilah jika engkau mulai merasa puas seperti itu, penyairku, karena itu tanda-tanda kematian kepenyairanmu.

Penyair, karenanya, tidak semata berkutat dengan kata-kata dan bagaimana merangkainya sehingga tampak indah dan “mirip” puisi. Lebih dari itu ia haruslah terus-menerus memperluas cakrawala batinnya dengan pengalaman, perenungan, pembacaan, dan sebagainya. Kedewasaan ruhani sang penyair akan sangat tampak pada kematangan sebuah sajak. Sering kali sebuah sajak sangat indah dari segi estetika bahasa, tetapi sangat kering dan mentah dari segi isi. Dari sini kematangan jiwa (:spiritual) sang penyair bisa dilihat.

Walau begitu, penyairku, teruslah menulis. Banyaklah membaca. Lihatlah dunia yang lain. Cobalah beragam seni yang lain, bahasa yang lain, olah raga yang lain, banyak lagi hal yang lain.

Semakin luas cakrawalamu, semakin dalam pula samudera puitikmu. Di keluasan dan kedalaman itulah gudang kosa kata tak terbatas bermukim.

Reply