13. Sidang Pembaca

Seorang penyair pemula khawatir jika ia menulis sajak-sajak serius dengan bahasa yang kaya perlambang ia akan kehilangan massa pembacanya.

Pembaca puisi (serius) memang sangat sedikit jumlahnya. Penyair memang kaum yang terkucil dari masyarakatnya, meskipun ia berbicara dengan dan tentang masyarakatnya. Penyair adalah kaum minoritas. Ia terjepit antara idealisme dalam batinnya dan realitas dalam lingkungan di luar dirinya. Ia (sedikit) antisosial.

Maka dengan puisi ia bercakap dan berdialog. Pembaca hanyalah audience yang “kebetulan” saja mampir di panggung pertunjukan sang penyair. Penyair akan tetap menulis puisi, dengan maupun tanpa pembaca.

Persetan dengan pembaca. Tak usah pedulikan pembaca ketika kau sedang menulis puisi, penyairku. Biarlah mereka menikmati sedikit kemewahan ketika tiba-tiba mereka tercengang, tertawa, atau bahkan mati karena serangan jantung saat puisimu hadir di hadapan mereka.

Tapi sungguh, abaikan mereka saat kau menulis puisimu. Jangan biarkan keinginan mereka mendiktemu, karena jika engkau telah ditaklukkan oleh selera mereka, engkau telah menggali kubur kepenyairanmu.

Reply