14. Tentang Niat Penyair dan Tafsir Pembaca

Pernahkah engkau begitu kecewa karena seorang pembaca menafsir puisimu sangat jauh berseberangan dengan niat puisimu, penyairku?

Berbahagialah jika ada sepuluh pembaca memberikan sepuluh penafsiran yang berbeda-beda tentang puisimu. Selama penafsiran itu berangkat dari tulisan sajakmu, maka setiap tafsir mereka adalah kemewahan yang kau peroleh, yang akan memperkaya puisimu.

Bersedihlah jika ada sepuluh pembaca memberikan penafsiran yang tunggal-seragam tentang puisimu persis seperti yang engkau niatkan. Artinya puisimu sangatlah kering dan sempit ruang imajinasinya, kecuali engkau sedang menulis sajak-sajak orasi, protes atau khutbah yang memang dimaukan untuk lugas tanpa imajinasi.

Tak perlu sedih dan merasa gagal mengkomunikasikan puisimu jika tulisan sajakmu menimbulkan bermacam tafsir dari pembacamu. Justru sajakmu telah berhasil berkomunikasi dengan setiap-tiap pembaca secara pribadi, secara individual, orang-perorang, vis a vis. Sajakmu telah berdialog dengan pengalaman puitik pribadi sang pembaca, lalu bereaksi sesuai emosi puitik si pembaca tersebut.

Di situlah letak kekayaan sebuah puisi.

Reply