16. KENANGAN: Sumber Inspirasi

Kenangan atau memori sering menjadi sumur ide yang tak pernah kering bagi seorang penyair. Kilasan sekelebat tentang peristiwa masa silam tak jarang muncul tiba-tiba, terpicu oleh sesuatu benda atau keadaan. Penyair yang menangkap sepotong kenangan yang berkesan baginya pun dengan tangkas kemudian menuliskannya sebagai puisi.

Namun, menuliskan kenangan begitu saja tanpa pengolahan hanya akan mereproduksi sebuah foto di album tua. Penyair tentu harus menginterpretasikan kenangan itu sedemikian rupa, melawankannya dengan pengalaman baru, atau mempertemukannya dengan pemahaman baru tentang peristiwa lampau tersebut. Maka, sepotong kenangan itu pun menjelma sebuah pengalaman baru, atau paling tak sebuah pemahaman yang lain, dari sudut pandang yang berbeda, tentang peristiwa itu.

Kenangan bisa menjelma menjadi semacam peringatan atas sesuatu, atau seseorang. Mungkin si penyair tiba-tiba mengingat sosok orang yang ternyata dirasanya begitu dekat setelah orang tersebut meninggal atau jauh darinya. Dari kesan semacam itu, sajak seperti di bawah ini sangat mungkin tercipta.

SESAJI INI UNTUKMU

seperti sajak yang kukirimkan lewat kabut merapi senja itu. senyummu tak lagi tertahan oleh gigil angin terjepit tebing kali berpasir. kenangan, cinta dan sakit hati, puisi dan dongeng peri masih lekat di gigi merah sirih setiap kali kauingatkan aku pada saat-saat kauajarkan puisi pertama kali: kematianmu

seperti sebatang sapu lidi yang begitu kaucintai, setiap pagi kaulukisi pekarangan kita dengan kaligrafi meski kau tak mengenal huruf, tetapi bukankah itu puisi yang kaugelung dengan melati dan ramuan jerami?

(daun jati, bambu ori, cerih burung kulik, jengkerik
bau tanah basah dan embun di daun jambu:
tanda persemayaman nenek moyang)

sembahyangmu tanpa sajadah, zikir adalah setiap pijitan jemarimu di keningku sambil kalulafalkan mantera agar jauh sawan dan bala. adakah yang lebih doa dari merjan tasbih teruntai dari air matamu? biarlah kenangan sehitam para-para tersaput jelaga dari tungku sepanjang tahun. hitam menggambar malam agar tersedia kamar untuk fajar, saat mata mengawali setiap debar. setiap debar.

jangan kau bacakan kitab suci untuk mengenangku, katamu. maka segenggam tanah dari kuburmu hanya bisa kuremas dalam tidurku. lalu kulihat kau tersenyum.

inilah ziarahku
tanpa kembang pembuka gerbang
atau asap ratus kemenyan penunjuk jalan

hanya getar jemari
dan sedikit puisi

*sajak di atas diambil dari arsip www.titiknol.com

Penyairku, bila kau suntuk karena kehabisan ide, cobalah berziarah ke masa lalu. Mungkin bisa membantu.

1 Reply

  1. adhit ramadhani Reply

    ini kolom yang paling mempunyai makna yang luar biasa yang hanya dapat di pahami dan menjadi hidup bagi orang-orang yang mengerti tentang ari sebuah khayal tinggkat tinggi, dan mempunyai perasaan yang sangat tajam melebihi tajamnya pisau dapur, lebih bermakna dari pada diskusi seminar tingkat dunia sekalipun.

Reply