2. Tentang Pengaruh Penyair Lain

Penyair yang baru saja memulai perjalanannya biasanya sangat sulit menolak pengaruh dari penyair(-penyair) idolanya. Pengaruh ini dapat berupa pengaruh gaya bahasa, idiom-idiom tertentu, tipografi (tata letak, penampilan visual teks tulisan puisi), laku kreatif bahkan bila perlu sampai cara hidup kesehariannya.

Apakah pengaruh semacam ini buruk? Tunggu dulu. Tak selamanya pengaruh itu buruk (atau tak selamanya pengaruh itu baik), tergantung bagaimana si penyair “pemula” itu menyikapi pengaruh tersebut. Seorang penyair pemula (baca: pembelajar) yang baik, akan menerima (atau menolak) pengaruh tersebut secara kritis, tidak mentah-mentah begitu saja. Kecenderungannya ialah penyair pemula itu “hanya” akan menerima pengaruh yang dianggapnya baik atau yang disukainya, sesuatu dari (sajak-sajak) penyair idola yang mempesona baginya.

Sangat dianjurkan bagi penyair pemula ini untuk bertanya mengapa gaya bahasa tertentu penyair A (dianggap) menarik, atau mengapa si penyair B suka memakai idiom-idiom tertentu. Meniru mentah-mentah hanya akan mencetak epigon, pengekor, dan karenanya penyair pemula tersebut akan semakin jauh dari karakternya sendiri. Di sinilah kepekaan bahasa si pemula tersebut diuji-dilatih-diuji terus menerus. Ia akan merasakan apakah gaya si penyair A yang sedang (dicoba) diikutinya saat itu benar-benar cocok dengan “rasa bahasa”nya sendiri, apakah nuraninya merasa nyaman dengan gaya pengucapan demikian itu. Sebaiknya, si pemula itu tidak pernah merasa nyaman dengan pengaruh-pengaruh itu. Bagaimanapun, itu bukanlah gaya (karakter) dia sendiri. Tetapi rasa nyaman atau tidak itu akan didapat setelah mencoba dan mengalami. Bukan sekedar merasakan saat membaca.

Mencoba dan mengalami itu artinya hanya satu: menulis puisi. Tulislah puisi dengan gaya sesuai penyair-penyair besar yang menjadi idolamu, tetapi tetaplah sadari kau sedang menulis sambil meminjam “tangan” mereka, para idola itu. Baca lagi hasil tulisan itu, rasakan, bagian mana yang menjadi “aneh”, bagian mana yang terasa bukan dirimu. Dari sana akan terkumpul sedikit demi sedikit kebenaran tentang karakter (lebih dari sekedar “ciri khas”) puisi-puisimu sendiri.

Jika para idola itu ibarat guru (melalui karya-karya mereka), maka pemula, sebagai murid yang baik, mesti melebihi sang guru, atau minimal berbeda, tidak sekedar menjadi “fotokopi” sang guru. Konon Nietzsche sangat benci jika murid-muridnya meniru dia sebagai pengekor semata.

Reply