3. MODAL PUISI: Kosa Kata

Kosa kata yang cukup kaya akan membuat seorang penyair tak kehabisan bahan untuk berucap. Penyair haruslah terus berupaya menggali ucap-ucapan (idiom) baru sehingga bahasanya semakin kaya dan segar. Baru di sini sebenarnya tidak sepenuhnya baru, ia lebih merupakan “bentukan” baru dari kata-kata yang telah ada. Kemauan untuk bereksperimen menyusun sebuah komposisi kata-kata menjadi idiom atau frasa yang baru merupakan dasar pengembangan kosa kata si penyair yang nantinya akan sangat memperkaya gaya pengucapan (diksi) penyair tersebut.

Penyair yang telah telanjur nyaman dengan ucap-ucapan tertentu, lebih lagi menganggap ucap-ucapan itu sebagai “ciri khas”nya, sering kali mengulang-ulangnya dalam sajak-sajaknya. Yang demikian itu tentu sangat beresiko mengundang kebosanan pembaca, terutama pembaca yang cukup setia “mengikuti” karya-karya penyair tersebut. Jika penyair sudah terjebak dalam “kepuasan” penampilan seperti itu, ia perlu bersiap-siap pensiun dari kepenyairannya.

Menelusuri lema demi lema dalam kamus (Indonesia, ditambah beberapa kamus dalam bahasa lainnya, asing maupun daerah) merupakan salah satu usaha yang cukup mengasyikkan. Dalam level ini, si penyair sebenarnya sedang melakukan sebuah riset pustaka, sebuah langkah ilmiah dalam proses penciptaannya. Sumber-sumber selain kamus antara lain buku-buku sastra yang lain (tidak harus puisi, bisa cerpen atau novel), atau bahkan buku-buku nonsastra.

Sering penyair terkungkung hanya pada kata-kata yang dinilai “sastrawi”, kata-kata yang “indah” sehingga menghindarkan kata-kata sehari-hari. Tetapi coba kita baca sajak-sajak Afrizal Malna, Joko Pinurbo, atau Made Wianta, mereka begitu asyik dengan kata-kata (terutama kata-kata benda) yang hadir dalam kehidupan sehari-hari dan sebelumnya dianggap “tidak atau kurang indah” untuk hadir dalam puisi.

Tentu saja kosa kata bukan satu-satunya modal penyair menulis puisi, masih banyak bahan-bahan dasar lainnya. Tetapi sepanjang penyair masih mempercayai bahasa (baca: kata-kata) sebagai medium pengucapannya, maka usaha memperkaya diri dengan kosa kata yang cukup adalah niscaya.

Puisi yang kuat selalu lahir dari dalam jiwa. Kata-kata hadir dalam jiwa melalui makanan ruhani penyair: bacaan (baik buku-buku maupun alam semesta). Maka banyaklah membaca agar jiwamu kaya dengan kosa kata, agar puisimu juga kaya dengan makna.

Reply