4. Tentang Tema

Apakah yang (bisa) dibicarakan oleh puisi?
Tema membawa kita pada isi puisi. Tentang apakah puisi itu, apakah tentang cinta, tuhan, cinta tuhan, cinta kepada tuhan, kesedihan, politik, ataukah tentang seekor tikus? Semua yang ada di kolong langit, bahkan yang di luar kolong langit sekalipun, bisa ditulis sebagai puisi.

Ada penyair yang percaya puisi yang kuat dihasilkan oleh emosi-emosi yang kuat seperti rasa rindu, sakit asmara, situasi yang tidak beres, rasa sesak di tenggorokan, pokoknya emosi-emosi yang membangkitkan kegelisahan. Emosi-emosi itu akan memicu pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan oleh penyair.

Dari hal yang paling sederhana sekalipun, dapat ditulis sebuah puisi yang kuat. Penyair seyogyanya tidak sekedar menuliskan apa yang dirasakannya atau yang dicerap oleh indrianya, melainkan merenungkan citra-citra indrawi tersebut, baru kemudian menuliskan hasil renungannya itu. Karenanya, seekor kupu-kupu pun bisa membuat pembaca puisi tersebut menjadi berpikir dan ikut merenung bersama puisi itu. Itulah salah satu ciri puisi yang berhasil: membawa pembacanya ke dalam perenungan, atau paling tidak mengingatkan pembaca pada sesuatu di dalam kehidupannya.

Coba kita simak puisi berikut ini:

KUPU-KUPU
:tsp

kupu-kupu di atas batu menunggu
punggungnya lelah sayapnya patah mengungu

kemarin terbang ia terlalu tinggi hingga lupa diri
hari ini terbang ia terlalu rendah tanpa strategi

kupu-kupu di atas batu menepi
memakna kerendahan hati dan mawas diri

indah ip
13 oktober 2002
23:30 am

Reply