5. Antara Tema dan Diksi: Gelap-terang Puisi

Tema bisa sederhana atau rumit, perenungan bisa menukik dalam atau sedangkal kulit ari saja. Sekarang saatnya mengungkapkannya dalam olah kata, dalam gaya ucap. Setiap penyair yang sudah lama menggeluti olah kata dalam puisi biasanya sudah memiliki semacam pola atur tertentu yang bisa “dikenali” dalam puisi-puisinya.

Ada yang suka memilih kata-kata yang sulit, dalam komposisi yang sulit pula, sehingga pembaca pun menjadi lebih sulit menafsirkan puisi tersebut. Puisi yang “gelap” semacam ini memang mensyaratkan bekal yang cukup di pihak pembaca. Atau, bisa saja si penyairnya sendiri yang memang kurang cakap berolah kata sehingga sengaja berumit-rumit dengan diksi agar puisinya tampak “berkabut”, seolah-olah sengaja menyesatkan pembaca.

Di seberang yang lain, banyak penyair berusaha mengungkapkan gagasannya dalam bahasa yang lugas, miskin perlambang, “terang-benderang”. Puisi-puisi semacam ini cenderung meledak-ledak, provokatif. Puisi-puisi protes biasanya penuh semangat, mirip pidato. Namun demikian, puisi-puisi semacam ini pun memiliki daya tariknya sendiri. Coba baca sajak-sajak Wiji Thukul, penyair cum buruh asal Solo yang hilang sebagai korban represi politik. Meskipun sajak-sajaknya banyak berisi protes perlawanan, tetap terasa sangat kuat, karena kandungan emosinya yang sangat kental.

Sementara di tengah-tengah, tak sedikit pula penyair yang berusaha menampakkan gaya ucap yang bersahaja, tetapi tetap berusaha membuka ruang imajinasi bagi pembaca. Efek puitik untuk memancing respon emosional maupun intelektual pembaca diperhitungkan benar. Ini seperti ruang “remang-remang” atau “abu-abu” antara kedua jenis gaya ucap di atas.

Coba cari contoh-contoh sajak yang “gelap”, “remang-remang atau abu-abu” dan yang “terang” sebagaimana diuraikan di atas. Baca dan resapi, gaya ucap mana yang menurutmu paling sesuai dengan karaktermu, penyairku?

Reply