7. Sembahyang Puisi

Tak jarang penyair membuat puisinya sebagai cara ia bersembahyang kepada Tuhan. Puisi profetik demikian biasanya berbicara tentang perenungan penyair dalam hubungannya dengan Tuhannya. Ada yang menggunakan idiom-idiom keagamaan yang dianutnya, ada juga yang membebaskan dirinya dari simbol-simbol agama tertentu dan lebih memilih sebagai spiritualis yang universal tanpa mau dikotakkan dalam agama tertentu. Pilihan ada di tangan penyair itu sendiri.

Ada yang percaya seorang penyair adalah orang terpilih dalam masyarakatnya. Ia dipercaya mengemban misi “kenabian” sehingga segala yang ditulisnya haruslah mencerminkan laku kehidupannya yang mulia dan suci. Maka puisi-puisinya pun tak jauh-jauh dari doa-doa dan sejenisnya.

Aku sendiri percaya penyair adalah manusia biasa, dan puisi ditulis untuk manusia karena Tuhan sudah tak membutuhkan apa-apa lagi dari manusia. Maka tulislah tentang manusia, tentang diri sendiri, tentang masyarakatmu, dan tentang inti semua agama di bumi: cinta. Dari sanalah pemahaman sesungguhnya tentang Tuhan dan semesta kehidupan dipetik. Maka aku pun menulis puisi secara ini. Bila itu akhirnya membawaku kepada kedekatan pada semesta, maka biarlah itu menjadi sembahyangku sendiri, sembahyang yang sunyi.

Reply