8. Tentang Kata-kata yang Dikebiri

Kata-kata yang disingkat seperti ‘tuk, ‘ntuk, ‘toek untuk kata untuk atau ‘kan, t’lah untuk kata akan, telah sering kita jumpai dalam puisi, khususnya puisi-puisi remaja. Dua kata yang pertama masih bolehlah kita terima sebagai bentuk “singkat” dari untuk, tetapi ‘toek? Remaja ABG sering mencari-cari bentuk yang “aneh” untuk menuliskan kata-kata yang sering mereka pakai, biasanya dalam surat-menyurat. Tak jarang mereka menggunakan bentuk-bentuk ejaan lama, seperti menggunakan diftong “oe” untuk bunyi “u”.

Penyair seharusnya menghormati bahasa. Baiklah, ia memiliki hak puitik (licentia poetica). Namun begitu, ia tak bisa begitu saja semena-mena memperkosa bahasa tanpa alasan yang kuat. Bentuk-bentuk singkat seperti di atas lebih lazim dipakai di lirik-lirik lagu, karena keterbatasan ketukan dalam birama, sehingga penulis atau penyanyi harus mengurangi satu atau lebih suku kata. Dalam puisi, bentuk demikian hanya akan mengurangi kekuatan kata tersebut. Setiap kata dalam puisi bisa memiliki “sihir” tertentu, dan ketika kata tersebut dikebiri, maka “sihir” itu pun bisa berkurang atau bahkan kehilangan kekuatannya.

Tak jarang pula para penyair, bahkan yang sudah “diakui” sebagai penyair senior, menggunakan kata-kata bentukan yang sudah tidak utuh lagi, seperti nendang, nyimpan, dan sejenisnya. Kemungkinan bentuk-bentuk seperti ini berasal dari pengaruh bahasa daerah. Bisa juga untuk mengejar ketukan saat puisi tersebut dibacakan (baca: dibunyikan). Menendang, menyimpan, tendang, simpan adalah kata-kata alternatif yang mungkin bisa dipakai untuk kata-kata tersebut tadi. Atau, cari kata-kata lain, kosa kata baru, yang bisa menggantikan kata-kata tersebut. Bagaimanapun, penyair adalah seniman bahasa, mengulang-ulang bentuk yang “salah” hanya akan menjadikan si penyair seorang pengekor mode yang tumpul dan tidak kreatif.

Memodifikasi kata-kata baku dalam bahasa Indonesia tanpa alasan yang kuat bisa merugikan. Bukannya hal itu haram dilakukan, tetapi perlu kita sadari “kekuatan” kata yang kita permak itu bisa berkurang bahkan hilang. Kalaupun dipaksakan kata-kata yang sudah “dikebiri” itu masuk dalam sajak, bagaimana bisa mengharapkan darinya makna beranak-pinak?

Reply