9. Tentang Bunyi Puisi

Seorang penyair yang sangat produktif menulis puisi pernah berkata, “Ketika menulis puisi, ingatlah saat puisimu itu nanti dibacakan (baca: dibunyikan –TSP).” Penyair kita ini mengingatkan unsur bunyi dalam puisi. Dalam puisi-puisi lama unsur bunyi ini sudah otomatis menjadi persyaratan yang mengikat, menjadi pakem. Misalnya dalam satu bait harus terdiri dari sekian baris, setiap baris harus terdiri dari sekian ketukan (suku kata), dan baris-baris dalam satu bait itu harus berakhir dengan bunyi-bunyi tertentu. Bentuk-bentuk puisi lama (puisi terikat) antara lain pantun, syair, gurindam, soneta (Eropa), haiku (Jepang), dan lain-lain bentuk puisi tradisional pada umumnya mengikuti pola-pola yang mengikat semacam itu.

Dalam puisi bebas yang ditulis sekarang pertimbangan bunyi tidak selalu dalam bentuk-bentuk puisi lama yang kaku (meskipun bisa saja begitu), melainkan lebih lentur. Ia bisa hadir dari pengulangan bunyi-bunyi vokal maupun konsonan yang dominan, baik di dalam maupun di akhir baris. Seperti dalam seni musik, seni rupa, tari, maupun seni yang lain, puisi juga memiliki nada, irama, ritme, ketukan, dan sejenisnya.

Coba lihat puisi pendek berikut:

Jangan Kau Tampik Rinduku

Seperti datang panggilan dari jauhmu
duka mengulur tangan, menjemput.
“Jangan, jangan kau tampik rinduku!”
Sesesat apapun jejak telah luput.

Jan2003. (Hasan Aspahani)

Atau, simak penggalan sajak “Merindukan Laut Adalah” berikut ini:


pada ombaknya setiap alun mewakili jutaan desah kesah yang tua, fosil-fosil kisah dalam pohon silsilah. mewakili jutaan kali melawan, jutaan kali menyerah

Penyairku, beri aku puisimu paling merdu!

3 Replies

  1. .cantika. Reply

    yuphhh…
    uda oke…
    daripada ako gag bisa bikin…

  2. t2n d3a Reply

    lumayan lahh paling nggak berrani berkarya tambah sis ae lah

  3. nods Reply

    thanx for the information..
    i can continued my home work..

Reply