17. Membaca Puisi Sendiri

Maka suatu ketika kau pun membaca puisi-puisimu kembali, penyairku, sambil tetap menulis puisi-puisi baru. Lalu tiba-tiba kau pun tersadar: puisimu (setidaknya menurutmu) bukannya bertambah bagus tetapi malah semakin jelek. Engkau pun bertanya, “Apakah aku mengalami kemunduran?”

Mungkin engkau perlu menulis lebih banyak lagi puisi untuk bisa tahu apakah puisimu bertambah bagus atau jelek. Bahkan seorang penyair yang sudah “empu” sekalipun tak selalu berhasil menulis puisi yang bagus, puisi yang adikarya, masterpiece. Mungkin kau hanya berhasil menulis satu puisi yang benar-benar kuat di antara seratus atau seribu puisi yang kau buat. Satu-satunya cara mengetahuinya ialah dengan terus menulis puisi.

Mungkin juga engkau telah mengalami kemajuan dalam pengetahuanmu mengenai puisi yang bagus, lalu dengan pengetahuanmu yang semakin tajam itu pun kau (sebagai pembaca) menjadi tak tahan untuk menyayati puisi-puisimu. Rasa tak puas dan kecewa pun menyeruak ke permukaan.

Dari kedua hal di atas, penyairku, kau tak punya alasan untuk putus asa. Teruslah menulis puisi, yang baik atau jelek, sampai kau dapatkan sebuah adikarya puisi, sebuah masterpiece!

Reply