18. Keadaan yang Melahirkan Puisi

Rasa yang nyaman, tenang, tenteram dan damai tidak akan menghasilkan puisi-puisi yang kuat, paling tidak menurut seleraku. Maksudku, penyairku, harus ada gelitik kegelisahan yang memberontak ingin bicara. Maka bila engkau ada dalam keadaan yang nyaman dan menyenangkan (tentu kau tak menginginkan apa-apa lagi selain waktu lebih banyak, bukan?), tak ada gunanya berusaha menulis puisi.

Puisi selalu lahir dari keadaan yang tidak nyaman, bahkan sakit, yang penuh aura gelisah mengusik setiap detik waktumu, entah itu rasa cemburu, sakit rindu, kejengkelan pada keadaan yang salah, atau sakit asmara*. Pendeknya, dalam kadar tertentu penyair sedang dalam keadaan “sakit jiwa”. Karena itu ia memerlukan puisi untuk membantu meringankan rasa sakitnya itu.

Maka aku ingin bertanya, penyairku, siapkah engkau memeluk rasa sakit yang kronis dalam hidup kepenyairanmu?

*) “A poem…begins as a lump in the throat, a sense of wrong, a homesickness, a lovesickness… It finds the thought and the thought finds the words.” ~ Robert Frost (1874–1963)

Reply