19. Antara Gairah Kemajuan dan Kesabaran

Seorang calon penyair ingin sekali menuliskan sebuah puisi yang berhasil. Sebuah sajak yang kuat lagi memikat. Lalu ia pun belajar pada seorang guru puisi. Sepulang dari mengaji puisi di surau sang guru, ia pun menuliskan puisi-puisinya lagi dengan semangat dan gairah yang baru dan mengepul hangat.

Lalu ia pun tak sabar lagi ingin mendapat penilaian tentang puisi-puisinya yang masih mengepul asapnya. Ia tunjukkan sajak-sajaknya pada teman-teman penyairnya, juga pada sang guru. Teman-temannya hanya tersenyum, sang guru juga.

Penyair pemula memiliki kecenderungan yang menjadi ciri khasnya: ketergesaan untuk menghasilkan karya yang hebat. Ia lalu (terlalu) rajin mengevaluasi atau meminta orang lain mengevaluasi puisinya. Seolah-olah puisi yang bagus bisa dihasilkan (hanya) dengan satu-dua kali mencoba.

Penyairku, kalau engkau terlalu melihat hasil, engkau melupakan proses. Bila engkau terlalu mengikatkan pandanganmu pada puncak gunung, engkau akan melepaskan pemandangan bunga-bunga edelweiss yang cantik, atau bahkan curam jurang yang beberapa sentimeter saja dari pijakan kakimu!

Kepenyairan adalah sebuah pendakian yang terjal lagi lambat. Ada maksudnya mengapa menulis puisi yang kuat itu tak mudah: agar seorang penyair merasakan dirinya tumbuh, agar ia mengerti puisi adalah makhluk yang juga tumbuh. Setiap makhluk memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda-beda. Demikian juga puisi. Ia adalah proses evolusi, tak bisa ditandai perubahannya (baca: pertumbuhannya) dalam satu-dua hari saja.

Penyairku, bersabarlah.

Reply