23. PUISI: Alat Ucap vs Makhluk Hidup

Ada beberapa penulis yang menulis puisi sekedar alternatif bentuk tulisan selain cerpen, roman, atau esei. Mereka menganggap puisi hanyalah salah satu alat ucap untuk menyampaikan sesuatu. Puisi-puisi yang lahir dari kondisi ini biasanya hanya mengambil bentuk fisiknya saja dan gagasan atau pesan penyair menjadi utama.

Di seberang yang lain, ada pula beberapa penyair yang begitu menghayati puisi sedemikian rupa sehingga baginya puisi adalah makhluk yang hidup. Karenanya tubuh dan jiwa puisi hadir bersama menciptakan gerak-geriknya sendiri. Ya, puisi-puisi dari varitas ini bisa begitu hidup, bergerak, bahkan merasuk dalam alam pikiran pembaca, lalu berkembang biak di dalam jiwa pembaca tersebut.

Mungkin gambaran di paragraf kedua itu terkesan agak berlebihan. Tetapi, Penyairku, puisi-puisi yang “hidup” itulah yang mampu menghidupi dirinya sendiri dan melampaui garis waktu: puisi-puisi yang mampu hidup abadi dari zaman ke zaman.

Reply