25. (sekedar pengingat)

Betapapun kau mati-matian mengejar ilmu puisi, berapapun banyaknya kuliah puisi kau hadiri, sungguh Penyairku, lupakanlah semua itu saat kau sedang menulis puisi. Dengarlah apa kata hatimu. Dengarlah suara-suara langit. Percayalah pada mata-telingamu sendiri. Engkaulah pujangga itu. Menulislah saja!

1 Reply

  1. prabowo adhi nugroho Reply

    itulah tindakan puitis yang bahkan bisa jadi puisi sendiri pada tangan orang-orang lapar

Reply