Seratus Baris Sajak buat Penyair

Seorang penyair terpaku di depan komputer
mencoba menulis syair
di puncak siang
ketika neon berpendar di ruangannya
di hadapannya tumpukan pekerjaan
yang sedang disisihkan beberapa menit

Hai! entah jam berapa ini
dan tanggal berapa ini
sewaktu dihapusnya penanda hari dan tanggal
yang dibenaknya adalah tanya

Tanya itu bergelembung berjejer jejer di kepalanya
sambil ia berkaca di semangkuk kopi instan yang sudah dingin
dihirupnya kopi secercap,
serasa dua buah detik bergerak maju di nadinya

bulan ini aku akan bereksperimen katanya
bulan ini aku akan jelajah gaya
akan kucari lagi pola pengucapan pengungkapan
akan kujalani pencarian makna

tangannya maju ke kibord komputer
layar berkedip kedip
di dinding tertempel poster chairil anwar
di laci tersimpan fotokopi Pablo neruda
dan di layar terpampang website sastra internet

Telponnya berdering,
seorang rekan bertanya kepadanya
tentang jadwal mengajar kursus bahasa

penyair tersenyum kecil
ini ruangku kecilku nanti dan sore aku mengajar kursus
di lembaga swasta, sambil mampir membeli CD,
berisi perangkat lunak terbaru untuk instalasi webserver

Seorang penyair meraih HPnya,
didapatinya sms dari rekan penyair
yang sedang berada di kantor di metropolitan
sedang rapat dengan direkturnya
tentang klien rancangan interior gedung

Penyair muda melamun, kemana mana
dia merasa muda, dan merasa tua, pada saat bersamaan
bagaikan matriks hitungan gaji
dibanding bandingkannya angka umur
antara umurnya sendiri, dengan rekan rekan yang sama sama bersyair
dari yang masih bersekolah di SMU
sampai yang sudah separuh abad lebih

lalu ditinggalkannya kolom angka angka itu
dijejerkannya nama nama yang dikenal
berdasarkan tulisan yang pernah mereka tulis
dan gaya yang mereka tampilkan
serta diskusi yang pernah terjadi
bahkan foto bersama

Penyair muda bertanya pada dirinya sendiri
apakah aku penyair
ataukah aku seorang tukang
apakah bersyair itu pekerjaanku
ataukah itu hobiku?
jangan jangan hobiku adalah mencuci baju
dan pekerjaanku menyetrika baju
sedang mengajar kursus adalah alat cari nafkahku
sedangkan bersyair harus kutanya pada puisiku sendiri,
mengapa aku bersyair

Penyair muda bertanya lagi
lalu aku apa?
apakah aku penyair, ataukah aku arsitek?
ataukah aku pengusaha ikan hias?
ataukah aku filsuf? ataukah aku guru taman kanak kanak?
Ataukah aku perancang grafis?
jangan jangan aku lemari es
jangan jangan aku mesin cuci
jangan jangan aku dispenser aqua

Berjejeran benda benda plastik dan baja
memenuhi medan pandangannya

Penyair muda tersadar dari lamunannya
suara sepeda motor melintas sayup menembus jendela ruangnya
diajukan badannya sejenak mendekati layar komputer
dibacanya lagi situs situs sastra di internet
dibacanya ulasan ulasan di mailing list

dicarinya
dicarinya, dicari serpih serpih rindu satu satu,
diperiksa warna dan bentuknya
diperiksanya satu persatu baris cerita,
yang tentang angin dan tentang laut
yang tentang jalan panjang dan tentang sejarah
yang tentang tangan memukul dan langkah meraih
diperiksanya satu persatu, dibacainya dan ditandainya
sang penyair menderu otaknya di depan layar
segala mesin mesinnya riuh bagai pabrik industri
mencerna dan mengolah berbagai kata dan bahasa
menjungkir dan menimang nimang makna
sementara jam digital tak berbunyi

Aku rindu jam besar bundar di setasiun kereta!
yang kujumpa saat awal awal aku bersyair
bisakah kubawa pulang jam besar itu?
kujadikan dispenser ide dan obyek lamunan saat aku macet bersyair

Penyair muda berkutat terus dalam duduknya
didorongnya waktu yang dikanan kirinya
ditepiskannya jadwal hari itu

Tiba tiba ia melambat berhenti
kelelahan mencolek colek sikut dan pundaknya
dinyalakannya lagi sebatang rokok
digerakkan mouse komputer

Ia merasa dalam kendara
yang sedang dihadang lalulintas macet
matanya bias menerawang jauh ke ujung jalan tol
dan mengenali kendara kendara di sekelilingnya
tapi ia tak sabar menunggu, perasaan menunggu mengganggunya

Diperhatikan sekelilingnya, dari beton pemisah jalan
sampai ke lampu lampu lalu lintas
dari para penyapu jalan sampai sopir sopir truk
Hai pak sopir!! Berminat jadi penyair kah kau?
jangan jangan dia memang penyair, yang berhobi menyopir truk

Dilihatnya taksi menepi menghampiri penumpang
ditanyanya dalam hati, sudah berapa lama penumpang itu menunggu?
mau kemana ia naik taksi? Hendak pulangkah dan kemana ia pulang
siapa nama orang itu? Dan apakah dia memelihara kucing atau iguana?

Lamunannya berjalan lagi kemana mana
ditelan nya semua benda benda disekitarnya di jalan macet
dari kendaraan kepenyairannya

Sebuah pesawat terbang melintas di langit di atasnya
737-400 gumamnya dalam hati, 160 knot rotasi take off, pada posisi
flap 15 derajat
kepalanya tiba tiba refleks teringat angka angka itu

seorang pengamen mengetuk kacanya..
penyair muda menyeringai memberi isyarat menolak
astaga pengamen ini tak kenal wajahku?
dan aku tak kenal wajahnya?
betapa waktu sudah berubah, sedemikian panjang

Penyair muda mengusap wajahnya ketika mulutnya menguap
membuyarkan kesadarannya kembali keruangnya
yang di depan komputer
jalan macet tadi hanya ada dikepalanya
atau hanya sebuah tayang entah di kelopak matanya
tapi tak mungkin di cermin kotak bedak
karena ia tak pernah memakai kosmetik

Seorang tiba tiba menepuk pundaknya
sudah sore tak pulang kah kau?
ia sadar dari lamunnya
dilihatnya sejenak betapa baris baris telah banyak tertuang
tanpa pola dan begitu spontan,
dan tanpa tahu siapa yang barusan selama ini menulis

disimpannya tulisan itu
lalu dikirimnya ke mailing list
penyair muda berdiri beranjak
sambil menyerapah
Sial ! aku belum selesai, baru mau bersyair!

yah sudah nanti saja dispenser aqua ini akan bersyair lagi
sekarang aku mengayun langkah dulu
Klik!

Reply