29. Filsafat Puisi

Bayangkanlah engkau sedang berlatih tae-kwon-do. Engkau bisa memandang latihan itu sebagai semata-mata olah raga (untuk menjaga kesehatan), atau ilmu berkelahi (membela diri), atau bisa juga sebagai jalan melatih jiwa (menuju kematangan, kedewasaan, ketenangan pikiran, bahkan pencerahan spiritual). Jika seorang pemula sangat tergila-gila pada jurus yang indah dan teknik yang sulit serta bangga jika bisa memperagakannya di depan umum, seorang pendekar biasanya tidak terlalu kemaruk dengan kebanggaan dan pamer jurus. Konon, kemenangan tertinggi seorang pendekar beladiri ialah ketika ia bisa mengalahkan musuhnya dengan sesedikit mungkin jurus, atau bahkan tanpa melakukan jurus apa pun.

Demikian pula puisi, engkau bisa memandang puisi sebagai sekadar berindah-indah dengan kata-kata, atau untuk kendaraan gagasan-gagasanmu (menyampaikan pendapat), atau untuk menjernihkan jiwa menuju pencerahan spiritual. Demikianlah, puisi itu ibarat tae-kwon-do.

Please follow and like us:

Reply