30. MENJUAL PUISI

Ini memang menjual dalam arti yang sebenarnya. Menukarkan puisi kita dengan sejumlah imbalan uang. Mengirimkan karya puisi kita ke media massa komersial yang menyediakan imbalan bagi karya-karya yang dimuat itu bagus. Media seperti itu biasanya menerapkan sistem seleksi yang sangat ketat. Memang cara seleksinya sangat tergantung pada subjektivitas sang redaktur, tetapi berkomunikasi dengan bermacam karakter para redaktur ini pun bagus untuk melihat sejauh mana karya kita mampu “bicara”.

Ada juga yang perlu diingat, menulis puisi sebaiknya lebih untuk “kesenangan” diri sendiri ketimbang mencari uang. Puisi-puisi yang sengaja ditulis untuk mencari nafkah, meski halal, tetap diragukan “niat puisi”nya. Menulislah untuk dirimu sendiri, untuk kepuasan batinmu, Penyairku sayang. Bila puisimu disiarkan juga di media massa dan mendapatkan imbalan, nikmatilah itu sebagai sekedar kemewahan sementara.

Please follow and like us:

2 Replies

  1. Desi wulandari Reply

    Harapan. Dburan ombak mraung raung . . . Kcauan brung brnyanyi mrdu . . . Mmbngunkan dri tdur llapku . . . Mmbwaku ke istna smudra . . . Tuk prgi brsma pnghuni laut . . . Prgi jauh mnju sbuah impian . . . Brfikir psitif Brpndrian tguh Tuk mnggpai asa .

  2. Aris Reply

    Ibu…
    Begitu banyak keselahanku padamu
    Sampai aku tak sadar betapa indahnya surga ditelapak kakimu
    Kau merawatku sejak aku belum bisa melihat dunia
    Kau membesarkanku sendiri dengan kedua tanganmu
    Kau mendidikku, mengajariku tanpa bosan
    Kau mengorbankan waktumu, pikiranmu,tenagamu untuk mengasuhku
    Sampai kekuatanmu mulai melemah
    Ibu….
    Betapa pedulinya engkau terhadapku
    Kau memasak air matamu untuk mencukupiku
    Kau mengumpat kesedihanmu dengan senyuman kasih sayangmu
    Sampai sekecil debu diwajahmu
    Tak terlihat dengan tulusnya kasih sayangmu

Reply