32. Angin yang Berhembus dalam Puisi

PENYAIR tak jarang mengambil fenomena atau unsur-unsur alam sebagai bahan puisinya, baik sebagai tema atau sebatas metafor. Fenomena alam yang paling dekat dengan indra penyair antara lain adalah cuaca atau hal-hal yang terkait dengan cuaca. Angin adalah salah satu elemen yang sering muncul dalam puisi.

KULIHAT SAMAR, KINCIR DI BALIK TREMBESI
Puisi Adhika Annissa

Kulihat samar,
Kincir yang berputar
di balik pohon trembesi yang terkantuk
Daun bak perahu
Berlayar ditiup angin

Kulihat samar,
Kincir yang berputar
Di balik pohon trembesi yang renta
Menggeleng ke kiri, ke kanan
Ikuti derasnya arus
Angin yang berhembus

19 Maret 2003
CATATAN: garis bawah dari editor

Pada sajak Adhika Annissa (Ninus) di atas, angin tidak menjadi tema sentral melainkan sekadar diksi. Kentara sekali sajak di atas sebagai sajak potret suasana di mana angin menjadi salah satu unsur yang cukup penting dalam mencitrakan suasana yang ditangkap oleh penyair.

Namun demikian, puisi tetaplah puisi yang sangat boleh dibaca secara subjektif. Kincir, pohon trembesi, dan angin dalam sajak di atas bisa juga dibaca sebagai metafora yang bisa memanggil penafsiran tertentu bagi pembaca. Menurut pembacaan saya, misalnya, sajak di atas dapat menjadi sebuah lukisan tentang suasana perenungan penyair dalam memandang kehidupan(nya). Kincir yang berputar sepertinya terasa akrab sebagai penggambaran siklus kehidupan, sementara pohon trembesi yang renta menjadi saksi atas putaran kincir yang terhembus angin. Bisa juga justru si pohon trembesi itu yang menggeleng ke kiri dan ke kanan oleh derasnya arus angin kehidupan, sedangkan sang kincir (biar bagaimana pun) tetap berputar seolah saksi yang tanpa peduli.

Angin yang berhembus dalam sajak dapat menjadi elemen yang sangat kuat, terutama dalam sajak-sajak suasana, karena ia dapat secara langsung dirasa oleh indra dan seringkali membawa pesan emosi yang cukup kuat. Dalam sajak-sajak tradisional Jepang, umumnya yang berbentuk haiku, angin dan elemen-elemen alam (cuaca, iklim) yang lain merupakan unsur yang penting dan menjadi ciri khas bait-bait haiku tersebut.

Nah, Penyairku, di mana hujan turun di ladang puisimu, kemarau menguningkan daun-daun trembesimu, banjir mengikis tebing-tebing sajakmu?

Reply