33. Puisi Sebagai Analgesik

Percayakah kau kalau kubilang puisi mampu menghilangkan (atau paling tidak, mengurangi) rasa sakit?

Menulis dan/atau membaca puisi dengan konsentrasi penuh, bagi seorang (penyair) yang menenggelamkan dirinya dalam lautan puisi ternyata dapat mengurangi penyakit, baik fisik maupun psikis, yang dideritanya.

Suatu ketika penyair Rendra membacakan sajak-sajak dan pidatonya selama hampir dua jam nonstop. Suaranya tetap membius dan berwibawa. Di luar gedung, penyair-penyair yang tidak suka karena pementasan itu tertutup dan harus membayar untuk menyaksikannya, akhirnya menggelar pentas tandingan di luar gedung. Bagaimanapun, pertunjukan Rendra memang memesona, menyihir. Sampai titik terakhir yang dia bacakan, penonton bergeming terkesima.

Seusai membacakan sajak-sajak dan pidatonya, dua orang pembantunya memapah penyair itu dari panggung. Belakangan baru diketahui bahwa sesungguhnya Rendra sedang sakit parah dan sangat lemah saat itu. Dari mana datangnya kekuatan ekstra yang ajaib itu?

Beberapa malam yang lalu aku (maaf, Penyairku sayang, kali ini aku bercerita tentang “aku”) membaca puisi di dua malam acara peluncuran buku puisi. Sebenarnya badanku sudah beberapa hari didera demam yang menjengkelkan. Dan inilah yang kurasakan: Aku sembuh saat membaca puisi itu. Pagi harinya aku merasa jauh lebih segar dan sehat.

Mungkin itu bukan bukti yang cukup atas pernyataan hipotetik di paragraf pertama di atas. Tetapi, Penyairku, jika engkau percaya dan mencintai puisi, maka ia pun akan mencintaimu dan berbuat sesuatu untuk menunjukkan cintanya padamu.

Reply