34. Puisi yang “Rada-rada” ;-)

Beberapa penyair merasa nyaman menggunakan idiom-idiom seksualitas dalam puisi-puisinya. Beberapa yang lain sama sekali merasa jengah menggunakan idiom-idiom serupa. Beberapa sisanya mengambil jalan tengah, tidak menolak tetapi juga tidak terlalu sering menggunakannya, atau menggunakan metafora atau pilihan kata-kata yang tidak langsung merujuk ke seksualitas itu.

Bahasa seksual banyak dipakai pula oleh beberapa penyair sufistik untuk membahasakan keintiman dengan Tuhan. Tak jarang puisi-puisi yang menggunakan bahasa seksual itu sedang berbicara tentang keintiman seorang mahkluk dengan Tuhannya. Tetapi tak jarang pula penyair menulis sajak yang terdengar sangat spiritual padahal ia sedang berbicara tentang nafsu syahwat badani semata.

Soal apakah engkau akan menulis sajak-sajak yang “porno” atau sekedar yang “rada-rada”, Penyairku, adalah semata-mata soal pilihan. Sepanjang engkau merasa nyaman dengannya, maka hadirlah ia dalam puisimu. Tetapi membaca sajak-sajak yang begini memang sangat beresiko tergelincir ke dalam penafsiran yang “sesat”. Hati-hati memang perlu. Baik membaca pun (/apalagi) menulis puisi.

Reply