35. Puisi-puisi “External”

Yang dimaksud adalah puisi-puisi yang berbicara tentang lingkungan penyair, tentang hal-hal di luar dirinya. Puisi-puisi semacam ini biasanya mewakili sikap penyair terhadap suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi di sekitarnya, atau yg dilihat dan diamatinya. Contoh paling kiwari (kata ini berarti “mutakhir” 😉 ) ialah tentang perang teluk seri 2 yang masih sedang berlangsung. Banyak penyair mengungkapkan sikap tak sukanya dalam sajak-sajaknya.

Sajak-sajak yang demikian biasanya berpretensi untuk menyampaikan pesan, baik secara gamblang sebagai protes (sajak-sajak slogan atau pamflet), maupun secara tersirat sebagai sajak yang tetap liris (fakta di luar diri diolah lagi dengan pengalaman puitik di dalam diri penyair). Coba kita bandingkan kedua sajak yang merespon perang teluk antara Irak-Amerika Serikat berikut ini:

On The Breaking News, 2
Sajak Hasan Aspahani

ada yang berlari, jejak-jejak tank lapis baja dan sepatu lars tentara
ada badai yang mengajakku menari di gurun-gurun berbatu letih ini
ada cadangan minyak di tubuhku (fosil darah sejarah diragi waktu)
ada petani tergesa memanen tomat yang berakar lebat di humusku
ada yang tak sempat dikubur, kering genang merah, pecahan peluru

tak ada yang bertanya padaku, bagaimana harus melaporkan semua
itu di depan mata hatimu, di siaran prime time, langsung di layar TV-mu.

Mar 2003

Angka 6
Sajak S.N. Mayasari H.

waktu itu jam enam petang. ada yang berdentang enam kali di lengan kiri. arloji warna merah hati. tik tak detiknya terasa begitu perih. membalap detak nadi. denyut jantung yang berlari. sehabis sebuah ledakan di sudut negeri. menghancurkan enam rumah, enam sekolah, enam gedung mewah, enam tempat ibadah. dan keluargaku sudah tak utuh lagi. tak berjumlah enam lagi. ibu bapa telah mendulu pergi. pada jam enam lewat enam menit. petang itu. di hari keenam peperangan.

aku sudah bosan sembunyi. jam enam petang ini kotaku bergetar kencang. tak ada lagi ketakutan. serangan memang sering datang menjelang malam. di jalan aku menabur doa doa. bersama enam sahabat yang tersisa. tiba tiba enam peluru panas berdesing di atas kepala. bercampur suara parau kami memanggil manggil kekasih. aku tersungkur jatuh pada seruan keenam. dada lubang. darah muncrat. masih kudengar sayup adzan di nafas keenam sebelum akhir. sebelum bibir memucat pasi. sebelum mati. waktu itu lewat jam enam petang. tak ada lagi yang berdentang di lengan kiri. arloji pecah beriring nadi yang henti membuncah.

Yogyakarta, Maret 2003

Ah, Penyairku, apatah di dunia ini yang bukan puisi?

Reply