41. Penyair di Tengah Masyarakat*

Ada yang bilang penyair itu ibarat pengarah perahu naga** yang memberi kendangan semangat sembari memberi aba-aba kepada para pendayung. Ada yang bilang penyair ialah orang yang berdepan-depan dengan zaman, orang yang memiliki penglihatan lebih jauh ke depan.

Sebagaimana seniman dari cabang kesenian yang lain, penyair memiliki tanggung jawab terhadap masyarakatnya secara unik. Ia seperti hati nurani yang berusaha tetap jernih dan jujur, seperti hati nurani yang mengingatkan kepala ketika mulai terprovokasi oleh hawa nafsu, serentak ia lemah tak berdaya ketika suaranya tidak didengar. Penyair menjadi denting yang jernih di tengah riuh-rendah kebisingan sekitarnya. Itulah misi penyair, menjadi oase bagi masyarakat yang kehausan tetapi sekaligus mengemban resiko untuk tidak didengar. Sering kali suara nurani (baca: penyair) tidak cukup dirasa perlu untuk didengar, tetapi harus ada seseorang yang tetap menyuarakan nurani, bukan?

Di sisi lain, untuk menjaga kejernihan nurani itu penyair menjadi sangat kontemplatif dan sendiri. Ia perlu menjaga jarak tertentu dari objek-objek di sekitarnya guna merenungkannya dalam “alam-dalam”nya. Penyair pun menjadi sosok yang sendiri, individualis.

Sebuah posisi yang tanggung?

*) Topik ini diusulkan oleh penyair Arwan Maulana
**) Perahu naga adalah perahu dayung tradisional dengan banyak pendayung yang menghadap buritan dan seorang pengarah/jurumudi yang berdiri/duduk di ujung buritan perahu menghadap haluan sambil memukul kendang penyemangat.

Reply