44. Kepercayaan Diri

“Malu ah dilihatin.” Lalu sang penyair menutup kembali buku catatannya begitu menyadari seseorang menontonnya bekerja puisi. Semangat “malu” yang seperti ini juga sering hinggap di pikiran penyair ketika diminta membacakan karyanya di publik. Juga ketika seorang penyair ingin menyiarkan karyanya di media massa tetapi takut “rahasia terdalam” yg dituangkannya dalam puisi “terbaca” oleh pembaca, lalu dia bersembunyi di balik benteng bernama “nama pena”.

Baiklah, Penyairku, seperti halnya pertarungan taekwondo, bekerja puisi pun perlu kepercayaan diri.

Reply