45. Puisi “Cengeng”

Memangnya ada puisi yang tidak cengeng? Tunggu dulu, Penyairku. Yang akan kita lirik kali ini ialah puisi-puisi cinta yang “cengeng”, atau yang “gombal”. Mengapa “gombal”? Ya, karena pengungkapannya yang tidak kreatif dan bertaburan dengan ucap-ucapan yang klise. Klise artinya idiom yang diulang-ulang sehingga terdengar membosankan dan tumpul. Klise seperti ini sebaiknya dihindari ketika kau menulis puisi, khususnya puisi cinta buat seseorang. Sayang jika tema yang agung seperti tema cinta ini menjadi sekadar rayuan gombal yang basi, bukan?

Simak puisi tanpa judul karya Loving Rose berikut ini:


dalam dekapmu
aku hanya ingin diam
rebahkan wajah di dadamu
nikmati irama detak jantungmu

dalam dekapmu
aku hanya ingin diam
sandarkan rindu dipelukmu
nikmati lembut belai sentuhanmu

dalam dekapmu
aku menari
seirama hasrat gemuruh

*Diambil dari situs Hanyakata

Sajak di atas termasuk “merdu” dalam pengertian enak dibunyikan. Sebenarnya sajak di atas cukup bagus dengan pengulangan pada dua baris pertama di stanza pertama dan kedua “dalam dekapmu/ aku hanya ingin diam”. Lalu apa kelemahan sajak ini? Ia kurang optimal menggali ungkapan-ungkapan yang baru. Sajak tersebut bila dicermati sebenarnya lebih menyerupai prosa dengan bahasa yang lugas. Ia menjadi (seperti) puisi karena elemen “bunyi” dan tata penulisannya (tipografi). Tidak dijumpai simbolisasi, metafora yang dapat ditafsir oleh pembaca. Pembaca tidak diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan “puisi”nya sendiri. Sajak seperti ini sering dijumpai dalam kartu-kartu ucapan romantis.

Kalau kau percaya puisi sebagai karya seni, Penyairku, maka ciptakanlah ungkapanmu sendiri. Hindarkan mendaur-ulang idiom-idiom yang sudah sering kaujumpai di kartu-kartu ucapan hari Valentin. Galilah kemungkinan-kemungkinan bahasa, temukan metafora, simbol-simbol baru.

Jika kau abai, bersiaplah diratapi oleh puisimu yang terpuruk seperti contoh berikut ini:

Diujung Dua Kunanti
Sajak Nonny

selepas hujan,
kunanti kau diujung dua
bawakan aku sekeranjang cinta,
dan sejumput senyum dibibirmu

kan kulukis rindu dimatamu
dengan penuh rasa cinta…

ingatlah,
aku menunggumu!

Nonny
20feb’02
*Diambil dari arsip milis Puisikita

1 Reply

  1. licu Reply

    aku suka banget ama tulisannya ttg batu"aku"nya…….kata2nya apik tenan

Reply