46. Kritik atau Pujian?

Mana lebih kausuka, Penyairku?

Memang mudah bilang bahwa kau sangat terbuka terhadap kritik, sepedas apapun, betapapun destruktifnya, tetapi ketika kritik itu benar-benar datang betapa kecewanya, betapa masygul rasanya. Maka kau pun pasang kuda-kuda bertahan dan menangkis membabi buta. Kau membela diri dan akhirnya membuat kritikusmu yang sangat berharga itu kapok mengkritik karyamu lagi. Agar aman mereka, para pembaca kritismu itu, pun memilih melontarkan puja-puji atas puisi-puisimu. Penyairku, jika ini terjadi, kau telah kehilangan sahabat sejati.

Pujian itu racun, demikian orang bijak berkata. Puji-pujian tidak akan membawamu ke mana-mana, Penyairku, percayalah. Memang kau akan merasa berbesar hati dan lebih percaya diri, semakin terpacu untuk berkarya, tetapi saat yang sama kau telah kehilangan masukan kritis yang justru akan sangat bermanfaat bagi kemajuanmu di masa depan.

Tolaklah pujian yang hanya membesarkan hati tetapi mengandung racun yang memabukkan dan melenakan. Berdoalah agar kritik-kritik berjatuhan di wajah puisimu, setajam dan sepedas apapun. Semakin pedas dan tajam semakin baik.

Demikianlah seorang penyair menempa mental kepenyairannya.

1 Reply

  1. adly Reply

    pujian beracun
    karena hati kehilangan makna
    karena kritik hati bisa terusik
    lalu makna intrinsik tidak lagi berbisik
    puasa syair?
    saat mengikat makna
    tidak lagi menyembul dari hati 🙂

Reply