47. Kehendak Sajak, Keinginan Penyair

Begini, Penyairku. Biarkanlah puisi berbicara sendiri, tak perlu kausuruh untuk mengatakan sesuatu. Puisimu adalah suara hatimu, jauh lebih dalam daripada sekadar menayangulangkan tangkapan panca indramu. Puisi tak usah mengambil alih tugas saudara-saudaranya yang lain.

Maksdudku begini, Penyairku, kalau kau ingin berkisah tentang suatu cerita khayalanmu, tulislah cerita pendek atau panjang. Jika kau ingin menceritakan apa yang kaulihat, tulislah laporan pandangan mata. Bukan hanya soal pembagian tugas itu sebenarnya yang penting, karena kau toh tetap boleh-boleh saja menuliskan puisi yang bercerita, atau puisi yang melaporkan peristiwa. Tetapi lebih dari pemilahan seperti itu, yang kumaksud ialah kedalaman puisi itu. Kedalaman yang melampaui panca indra. Kedalaman yang melampaui imla pikiran dan kehendak benak. Puisi semestinya berbicara dalam bahasa perenungan, bahasa kemanusiaan yang paling dalam, karenanya konteks waktu, tempat, peristiwa mestinya sudah lebur dalam perenungan yang meluas semesta, mendalam hati dan kemanusiaan.

Seperti orang tua yang membebaskan anaknya untuk bermain sesuka hatinya yang jernih, bukannya memaksakan keinginannya agar si anak bermain sesuai kehendak si orang tua. Orang tua itulah kau, Penyairku, sedangkan si anak adalah puisiMu.

Reply