48. Guna Puisi bagi Kehidupan

Tak jarang Puisi disepelekan sebagai sesuatu yang abstrak, mengawang di langit, tak membumi, tak ada manfaatnya bagi kehidupan.

Bagi sebagian penyair, puisi dituntut untuk memberi manfaat langsung dalam kehidupan praktis. Dari mereka kemudian muncullah sajak-sajak yang berkomunikasi secara langsung, vulgar dan tanpa basa-basi. Isinya bisa mengajak, memprovokasi, mengajari. Puisi-puisi tradisional relatif lebih langsung dari segi bahasa karena ditujukan untuk bercerita atau menasihati.

Sebagian yang lain percaya puisi adalah bahasa renung yang bersifat pribadi. Dari mereka dihasilkan sajak-sajak yang “gelap” atau “remang-remang” sehingga diperlukan kejernihan hati dan kepekaan perasaan untuk berinteraksi dengan sajak-sajak tersebut. Dari sisi penyair, dia mengasah rasa kemanusiaannya melalui proses penciptaan puisi. Dari sisi pembaca, mereka mengasah kepekaan rasa untuk berdialog dengan puisi tersebut. Interaksi yang terjadi lebih pada level spiritual, sedangkan pada kelompok yang pertama–sebagaimana diuraikan pada paragraf sebelum ini–interaksi lebih pada level praktis.

Mana yang lebih tinggi di antara keduanya? Silakan memilih, Penyairku. Paling tidak, pilihlah yang kauanggap berguna bagi kehidupanmu sendiri.

1 Reply

  1. adly Reply

    bukankah umbaran rasa
    dapat dirasa
    di penghujung tabula rasa
    lalu
    masihkah karya
    menjadi hambar tanpa keindahan

Reply