Fantasi ‘Sebuah Kosmos’ dalam Esei

I

‘Kosmos’, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti ‘jagat raya; alam semesta’. Lema yang berkait dengan kata ini ialah ‘kosmologi’ yang memiliki tiga penjelasan dalam KBBI, salah satunya ialah ‘cabang astronomi yang menyelidiki asal-usul, struktur, dan hubungan ruang waktu dari alam semesta’. Dari kata ‘kosmos’ itu kemudian dikenal istilah ‘makrokosmos’ yang melihat kosmos sebagai alam semesta dalam keluasan relatif, dan ‘mikrokosmos’ yang melihat miniatur alam semesta dalam diri manusia dan sifat kemanusiaan atau sering juga disebut sebagai dunia kecil, jagat cilik (Jawa) , jagat kecil.

Dalam tulisan berjudul “Kematian ‘Sebuah Kota’ dalam Puisi” (Republika, 25 Mei 2003) Binhad Nurrohmat menggunakan istilah ‘kosmos’ dalam pemahaman yang berbeda. Paling tidak kata ‘kosmos’—dalam berbagai variasinya—muncul sebanyak 52 kali dalam tulisan tersebut. Kata tersebut di antaranya muncul dalam istilah-istilah turunannya seperti ‘kosmos Yogya’, ‘kosmos Jawa’, ‘kosmos kepenyairan’, ‘kosmos budaya’, ‘kosmos primordial’, ‘kosmos kota’, ‘kosmos agraris’, ‘kosmos bukan-Yogya’, ‘kosmos local/etnis’, dan ‘kosmos hibrida’. Tidak ditemukan definisi yang jelas dan rinci tentang istilah-istilah ‘kosmis’ (kosmis = yang berkenaan dengan kosmos) itu selain dalam kalimat pertama pada bagian kedua tulisan tersebut: ‘Alam dan manusia adalah kosmos (sic)’. Dalam tulisan ini saya akan tetap menggunakan istilah kosmos versi Binhad itu dalam tanda kutip, ‘kosmos’, agar pembaca tidak rancu dengan istilah kosmos yang lazim dikenal dalam ilmu astronomi maupun metafisika seperti dijelaskan dalam KBBI di atas.

Absennya pembatasan makna istilah yang dipakai dalam sebuah tulisan beresiko cacatnya keseluruhan gagasan dalam tulisan tersebut. Dari judul tulisan Binhad misalnya, pembaca harus mengaitkan sendiri kota manakah yang dimaksud dalam ‘Sebuah Kota’ itu dengan ‘kosmos Yogya’ yang bertebaran dalam tulisannya. ‘Sebuah Kota’ dalam judul tulisan tersebut kemudian dapat kiranya dipahami sebagai ‘(kota) Yogya’ atau ‘(kota) Yogyakarta’. Tetapi apakah yang dimaksud Binhad sebagai ‘kosmos Yogya’ itu?
Dengan bermodal istilah tersebut penyair Binhad bahkan mendakwa penyair Yogyakarta ‘tak becus merengkuh ruh kosmos Yogya dalam spirit dan penulisan puisi (sic)’ sehingga Binhad menyimpulkan bahwa ‘Sebenarnya kosmos Yogya kini sudah mati dalam puisi akibat apatisme kepenyairan itu (sic)’. Kosmos manakah yang dimaksud oleh Binhad ini? Bagaimana sebuah “jagat semesta raya” tiba-tiba mengerdil menjadi “sebuah kota”? Jika ‘kosmos Yogya’ itu memang nyata (juga kosmos-kosmos yang lain seperti ‘kosmos Bandung’, ‘kosmos Jakarta’, ‘kosmos Bogor’, dan ‘kosmos-kosmos’ yang lain) , bagaimanakah sebuah kosmos dapat mati (meskipun hanya ‘dalam puisi’)?
Dari tuduhan Binhad terhadap beberapa penyair (yang tinggal di) Yogyakarta yang menurutnya ‘hanya hidup secara biologis-fisikal dan tidak hidup secara kultural-spiritual (sic)’ saya menduga yang dimaksud dengan ‘kosmos’ dalam keseluruhan tulisannya mungkin adalah “latar/setting tradisi” (kosmos Jawa, kosmos Yogya, kosmos bukan-Yogya, kosmos primordial) atau “konteks sosio-kultural” (kosmos kota, kosmos agraris), sehingga ‘kosmos Yogya’ yang dimaksud oleh Binhad mungkin adalah “latar tradisi (Yogya) dalam konteks sosio-kultural (Yogya)” yang sempat disentil dalam tulisannya itu sebagai ‘denyut dan dinamika kebudayaan kota huniannya’ atau ‘dinamika kenyataan alam dan manusia di kota huniannya kini (sic)’. Jadi pengertian ‘kosmos’ sebagai jagat raya (makro maupun mikro) yang tidak berbatas geografis oleh Binhad telah dikerdilkan dengan kotak-kotak yang sempit dan justru fisikal.

Tetapi, lepas dari cacat terminologis esei tersebut, benarkah tuduhan Binhad itu? Benarkah ‘kaum penyair Yogya terkini’ tidak hidup secara kultural-spiritual, badannya di Yogya tetapi batinnya entah? Sayangnya Binhad tidak mampu menunjukkan bagaimana ia membaca ‘kosmos Jawa’ dari karya Ronggowarsito (dibandingkan dengan Serat Centhini, misalnya), atau bagaimana misalnya ia, dalam pembacaan subjektifnya, menemukan ‘kosmos Yogya’ dalam karya-karya “Sang Yogawan” Ragil Suwarna Pragolapati yang tidak ditemukan dalam karya-karya penyair Hasta Indriyana yang asli kelahiran Gunungkidul, Yogyakarta. Benarkah ‘kaum penyair Yogya’ itu terasing dari ‘kosmos Yogya’ karena kurangnya pemahaman mereka atas bahasa Jawa?

II

Dalam fantasi Binhad tampaknya kaum penyair Yogya diidealkan menghayati “konteks sosio-kultural Yogya” baik secara fisik maupun spiritual. ‘Kosmos’ (baca: kota) Yogyakarta dalam fantasi Binhad itu mestinya ‘hadir’ dalam puisi-puisi yang ditulis oleh ‘kaum penyair (yang tinggal di) Yogya’ agar penyair tersebut tidak teralienasi (terasing) lalu ‘melarikan diri ke dalam diri sendiri yang kemudian melahirkan gagasan puitik personal atau berkubang gagasan puitik yang terilhami tradisi relijiusitas/sufisme’. Mungkin Binhad lupa bahwa karya-karya Ronggowarsito juga sarat dengan relijiusitas sufistik, seperti juga karya-karya Ragil Suwarna Pragolapati. Pada hemat saya, justru ‘pengasingan diri’ semacam ini merupakan upaya penyair untuk menghayati (mikro)kosmos dalam dirinya. Justru tak jarang ‘gagasan puitik personal’ tersebut bersumber dan terinspirasi dari (makro)kosmos (alam semesta raya).

Saya khawatir kesimpulan Binhad hasil pembacaan subjektifnya terhadap karya-karya beberapa penyair Yogya terkini (Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, Hasta Indrayana, Akhmad Muhaimin Azzet, Kuswaidi Syafii, Amien Wangsitalaja) itu terlalu gegabah, jika tidak dapat dikatakan gagal. Kekacauan terminologis yang ditunjukkannya dalam tulisannya tersebut semakin memperkuat dugaan saya bahwa Binhad tidak memiliki dasar argumen yang kuat selain dari fantasinya tentang ‘kosmos Yogya’ yang ‘sudah mati’ dan menjadi ‘sebuah ironi yang menyedihkan (sic)’, sehingga perlu ‘menjadi agenda budaya dalam kepenyairan Yogya terkini (sic)’. Fantasi itu pula yang kemudian dipakainya sebagai dasar untuk menghakimi ‘kaum penyair Yogya terkini’ tersebut. Esei Binhad berjudul “Kematian ‘Sebuah Kota’ dalam Puisi” itu pun karenanya telah gagal sejak awal.

Andaikan ‘kosmos Yogya’ versi Binhad tersebut benar dapat dipahami sebagai ‘konteks sosio-kultural’ pun oleh Binhad dibayangkan sebagai entitas yang statis dan terkotak-kotak secara kaku. Dari logika Binhad ini kemudian dibayangkannya sebuah konflik antar ‘kosmos lokal/etnis’, dalam hal ini ‘kosmos Yogya’ versus ‘kosmos bukan-Yogya’. Dalam pandangannya, kedua ‘kosmos’ tersebut saling asing dan menolak, sehingga ia pun membayangkan hubungan yang lebih positif sebagai ‘kosmos hibrida’ di mana kedua ‘kosmos’ tersebut saling berdialog secara rileks dan fleksibel sehingga melahirkan ‘kosmos’ baru. ‘Kosmos’ baru itu diandaikan Binhad sebagai ‘kosmos Yogya’ yang telah mengalami ‘penyesuaian-penyesuaian logis’ dari hasil pertemuan ‘kosmos Yogya’ dengan ‘kosmos bukan-Yogya’ dimaksud. Lagi-lagi dari sini terbaca bahwa ‘kosmos’ versi Binhad tak lebih dari sebuah entitas sosio-kultural, jauh dari pengertian kosmos sebagai jagat raya yang nirbatas dan universal baik dalam pengertian fisik maupun metafisik.

III

Sebuah esei yang baik dituntut kejernihan gagasan dan kejernihan gagasan itu dapat diawali dengan kejernihan makna peristilahan yang dipakai. Kamus, ensiklopedia dan referensi valid lainnya sangat penting untuk dirujuk alih-alih asumsi pribadi yang tidak jelas sumber acuannya. Istilah yang kabur, apalagi tanpa penjelasan sedari mula, hanya akan membuat sebuah esei menjadi seperti catatan delusi impulsif yang tidak logis.
Berfantasi memang sangat mengasyikkan, terutama bagi seorang penyair. Tetapi, bukankah lebih asyik kalau fantasi itu ditulis dalam sebuah fiksi atau puisi?

Penulis adalah pecinta puisi dan penggembira sastra. Tinggal di Yogyakarta. E-mail: tspinang@yahoo.com.

Artikel Binhad itu dapat dibaca di sini: http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=125914&kat_id=102

Sebuah esei yang baik dituntut kejernihan gagasan dan kejernihan gagasan itu dapat diawali dengan kejernihan makna peristilahan yang dipakai. Kamus, ensiklopedia dan referensi valid lainnya sangat penting untuk dirujuk alih-alih asumsi pribadi yang tidak jelas sumber acuannya. Istilah yang kabur, apalagi tanpa penjelasan sedari mula, hanya akan membuat sebuah esei menjadi seperti catatan delusi impulsif yang tidak logis.

Reply