Sajak tentang Hati, Tahi, dan Puisi

sepematang jalan di depan ini tak harus terbaca sebagai lagu. atau puisi. persahabatan adalah sebuah dongeng yang rindu dibaca berulang-ulang. pengantar tidur yang membosankan. seperti dengki di lubuk dadamu. cerita negeri salju ada juga dalam kenangan masa mudaku, tetapi tak selalu menghantui cerita-cerita romantis pemikat gadis-gadis. ada yang tertinggal dalam badai, aku tak asing. seperti sendi yang meretuk oleh angin beku. aku tak mau mati dalam pengap boot berpaku. dalam kehangatan yang terpaksa. dingin salju di hatimu seperti tungku membakar kepalamu. hingga hangus bola mata. kegelapan memang sepi. kesepian memang gelap. tetapi salju tetap salju. dan tungku tetap kaupelihara dalam kepala. lalu neraka hadir, bukan di dalam cerita-cerita di buku agama. di dalam dada.

neraka itu tak ada, katamu sambil menebah dada. bukankah itu bara menyala di sebaliknya? ini cinta, katamu mencoba berdusta. baiklah, kataku. ajari aku cinta, seperti kaupuja syahwat tak rantai, seperti kausimpan dendam tak lerai. onanilah kalian dalam puisi, katamu lagi. sambil kaugenggam tinjumu sendiri, sementara berlelehan mani di balik gigi. tak ada cinta dalam puisiku. yang ada hanya gemericik sungai masa kecil. tempat kusimpan segala kisah pertarungan kemudaanku, romantika remaja. cerita basi yang semestinya tersimpan dalam-dalam. tak akan kaujumpa dalam sajak-sajakku, majas tinju atau kisah pendekar dalam komik silat. cukup puas kulewatkan usia muda, tak hendak kuabadikan dalam panas kata, atau jurus pengundang tawa. tak hendak kuingkari usia. kau tahu, beberapa helai rambutku luruh pasi pagi tadi. warnanya tak hitam lagi.

di negeri utara yang dingin, sedingin badai salju dalam cerita mabukmu itu, pernah singgah kepak sayap rajawali dalam dadaku. terukir di puncak tiang totem. matanya yang dalam disembah dalam upacara asap. tapi ia tak pernah terbang jauh. tak ada yang benar-benar mengembara di dunia ini. tidak juga angan-angan. semuanya mukim. dalam sebuah negeri bernama hati.

hati pula yang mengingati, setiap kali diingkari. jika kautuliskan dengki dalam puisi, ijinkan hatimu bunuh diri. seperti hati para penyair yang mengaku sufi, sambil menikmati puja-puji. atau penyair yang mengaku kafir sambil menangis dalam zikir. kulewati masa muda. tak begitu mudah. kujalani masa kini. tak sepenuh hati.

puisi seperti tahi. dikutuk sambil diam-diam dirindui bila tak datang pagi-pagi. puisi seperti kitab suci. dipuja-puji dan haram dikencingi. aku masih mencoba melupakan puisi, baik sebagai tahi atau kitab suci. bagiku semuanya adalah urusan hati. atau tahi.

bila hati dan tahi tak dapat dibedakan lagi, soal puisi tak lagi berarti. bila penyair masih menulis puisi, biarlah demi mengisi koran minggu pagi. demi sesuap nasi. paling tidak puisi bisa juga menghidupi beberapa hari. puisi menjelma menjadi nasi. menjadi tahi keesokan pagi. begitulah, paling tidak puisi tak menebar dengki lalu menjadi benci.

peliharalah ilusi, mungkin ia adalah sesungguh puisi. betapa sia-sia kisah perjalananmu yang panjang. derita cuaca dan demam meriang. jika hanya menyisakan tungku dalam kepala. jika hanya menyisakan salju dalam hati yang batu.

hati yang batu adalah masa kanak yang membeku. sementara helai rambut putih berjatuhan. satu persatu.

Reply