50. Lagi-lagi Sajak Religi

Di nomor 7 dan 42, telah disinggung perihal puisi, sembahyang, doa. (Oh ya, Penyairku, jangan bosan kalau kaujumpai sebuah topik ditulis di sini berulang-ulang!) Bagaimana posisi puisi bagi penyair yang “religius”, apakah puisi dimanipulasi sedemikian rupa sebagai alat loudspeaker bagi si penyair untuk “berdakwah” ataukah puisi itu sendiri adalah sebuah laku sembahyang, laku spiritual yang melebur dengan eksistensi penyair, ataukah bukan keduanya.

Perihal sajak-sajak religius, sajak-sajak doa, sajak-sajak sufistik, sudah sering dibahas oleh para ahli sastra dengan argumen masing-masing. Berhati-hatilah, Penyairku, jangan sampai terjebak dalam permainan definisi. Puisi adalah puisi. Puisi sejati itu satu adanya. Sedangkan berbagai macam bentuk dan definisi, kategori, dan label yang dilekatkan padanya hanyalah citra, perwujudan fisik, bayang-bayang saja dari sejati puisi itu. Janganlah engkau terkecoh dan teruslah menulis puisi.

Ia ada di dalam dadamu.

Reply