kuatrin jumat

beginilah kekasih, telah kita ramu
jejak-jejak yang riuh di matamu
menjadi buku cerita tentang laut
dan burung camar yang cemberut

betapa kita tak lelah membangun puisi
membaca batu-batu di jalanan sunyi
lalu atas nama hati kita tuliskan
tanda-tanda kematian, pun masa depan

ada yang menyerah pada gemuruh mesin
maka puisi menjadi teman bermain
ada yang menyerah pada gemuruh dada
lalu puisi menjadi semacam keranda

mengusung kematian penyair ragu
mengapa puisi tak juga menyatu
bukankah jiwa kita ini lumpur
tersuruk di lantai sumur?

2003

Reply