sajak ulang tahun seorang penyair

: Arwan Maulana

maka tuliskanlah puisi dalam mantra-mantramu. lebur dalam sejarah karang kapur, dalam kandung rindu bunda samudera, berdebur

ombak di urat nadimu terbaca sebagai birahi hujan gunung yang dendam pada langit. kuburkan dalam puisi. lalu dalam jurus tarian yang begitu kauhafal, lafalkanlah kutuk menggempur dinding batu dalam gua dadamu. agar terbuka celah untuk fajar yang rekah

seperti kisah di komik silat tentang misteri jubah biru, demikianlah puisi menelikung kenangan-kenangan yang alum. memburu resah kisahmu hingga ke peluk ibu. sedang di persimpangan ini terpentang percabangan, dan peta telah lusuh garis-garisnya

maka kembalilah kepada keringat lelaki yang luruh dalam lenguhmu dini hari. puisi ini memang panjang dan meletihkan. sedangkan tinta seringkali tumpah sia-sia, jemari telah gupak legamnya. tetapi bukankah telah kaudaki terjal karang kapur itu, kaurasai tajam pisaunya di telapak kakimu?

2003

Reply