Memoar Sungai Suatu Sore

Tak seperti bocah seusianya, anak kecil itu termasuk pemberani. Ia tak pernah takut setan atau hantu. Kalau pun takut, ia tak pernah menampakkannya. Di saat teman-teman sebayanya bersembunyi di balik dinding panel kayu rumah joglo kampung saat rombongan pengantar jenazah lewat, anak itu justru berusaha mengintip di lubang dinding atau celah pintu.

Di antara teman-temannya ia sebenarnya bukan termasuk jenis anak jagoan. Justru sebaliknya, ia termasuk anak yang ringkih badannya, sering sakit-sakitan. Karena tubuhnya yang lemah, ia tak mampu mengejar lari teman-teman sebayanya saat lewat kompleks kuburan desa. Selalu tertinggal di barisan teman-teman yang jauh lebih gesit itu tentu saja membuatnya menjadi sasaran yang empuk bagi hantu kuburan yang suka menangkap anak-anak di siang bolong, saat bedug lohor bertalu. Dengan sekuat hati rasa takut itu pun ia sembunyikan dengan berjalan gagah tanpa buru-buru, sesekali bersiul-siul. Teman-temannya pun berpikir ia sungguh-sungguh pemberani. Mereka tak tahu kalau ia selalu terbangun gelisah setiap malam karena dikejar-kejar hantu kuburan yang seram. Untung guru agama di sekolah mengajarinya doa-doa. Katanya setan pasti takut sama doa-doa. Ayahnya tak pernah mengijinkannya pergi mengaji di surau, tapi ia cukup cepat menghapal doa-doa yang diajarkannya di sekolah. Ayahnya bilang, mengaji di surau bikin bodoh.

Kadang-kadang anak kecil itu jengkel dan marah atas keringkihan tubuhnya yang sering sakit dan selalu kalah dalam setiap permainan di kampung, baik itu sepak bola, betengan, bahkan ia tak bisa berenang! Sebuah aib yang memalukan bagi anak yang tumbuh di kampung tepi sungai dengan kedung yang luas dan dalam. Bahkan seekor kerbau pun pandai berenang. Paling tidak begitulah anggapan anak itu setiap kali ia ikut kakak perempuannya mencuci baju di sungai dan dilihatnya para lelaki memandikan kerbau mereka di kedung sungai. Sungguh masa kecil yang jauh dari keriangan kanak-kanak yang tangkas dan gesit.

Karena tubuhnya yang rapuh itu pulalah anak kecil itu lebih sering tinggal di rumah, menemani ibunya yang mengerjakan jahitan pesanan para tetangga. Bermain perca seperti anak perempuan. Memang, kadang kadang ia berhasil juga melarikan diri dari “tugas” yang paling menyebalkan: tidur siang! Hingga suatu sore seorang pemuda kampung mengantarnya pulang dalam keadaan lemas habis pingsan kena bola nyasar dari sebuah tendangan sudut yang kencang, tepat mengenai dadanya. Banyak yang ingin dibuktikannya. Mestinya ia bisa juga bermain seperti teman-teman sebayanya yang lain.

Tetapi tak selamanya kondisi tubuh yang “berbeda” itu menyebalkan. Ada juga sisinya yang menyenangkan. Ia kadang-kadang menikmati berada di rumah. Ibunya sesekali membacakan cerita dongeng dari majalah anak-anak edisi lama yang dibawanya dari perpustakaan sekolah. Ibunya memang seorang guru SD. Fantasinya suka terhanyut oleh cerita-cerita itu. Juga kakak sepupunya yang suka membacakan kisah-kisah pewayangan dari majalah berbahasa Jawa terbitan Jawa Timur. Kakak perempuan itu pintar menirukan lagu dan logat dalang wayang kulit. Kadang-kadang ia menjadi anak manis yang sudah mandi dan wangi jam lima sore. Biasanya ia sedang ingin menggambar, ia paling suka menggambar sore hari dalam keadaan sudah mandi. Ia suka menggambar di tempat tidur, dengan kertas gambar yang bersih dan pensil warna yang sudah diraut sempurna. Ia suka menggambar tokoh-tokoh pahlawan dari gambar komik. Ia suka menggambar Gundala atau Phantom. Tak jarang juga ia menggambar kapal. Entah kenapa ia suka menggambar kapal. Mungkin karena tak pernah dilihatnya kapal yang sesungguhnya. Ia memang besar di gunung. Pertama kali ia melihat laut saat suatu hari Minggu ayahnya mengajaknya naik motor ke pantai. Mungkin ayah tahu keinginannya melihat laut yang selama ini hanya bisa dilukiskannya dalam buku gambarnya. Ia suka sekali menggambar. Ia suka melihat kakaknya menggambar tugas pelajaran seni rupa di SMP. Kakaknya memakai cat air. Ia baru boleh memakai pensil warna. Cat air harganya mahal. Ia baru boleh memakai cat air kelak jika sudah masuk SMP.

Anak kecil ini tinggal di sebuah kampung di mana seluruh keluarga besar neneknya tinggal saling berdekatan. Sialnya, ia tak punya sepupu yang sebaya usia, kecuali seorang kakak perempuan yang setahun lebih tua. Tentu saja ia tak ingin main dengan kakak perempuannya itu. Kakak perempuan ini suka bermain karet gelang, pasar-pasaran, atau lompat tali. Permainan perempuan. Tetapi kakak-kakak sepupu laki-laki yang sebaya kakak kandungnya suka cemberut kalau ia ingin ikut permainan mereka, permainan anak besar. Berenang di sungai, mencuri mangga di kuburan desa, menjebak burung di ladang, atau bemain bola di tanah cengkar pinggir desa. Hingga suatu hari, sebuah sore.

***

Tak seperti biasanya, kali itu kakak lelakinya begitu bermurah hati mengajaknya mandi di sungai. Rupanya ia malu karena adik temannya sudah pintar berenang. Ya, kakaknya itu akan mengajarinya berenang. Anak itu pun berbunga-bunga hatinya. Sebentar lagi ia akan bisa berenang. Tentu saja ibu akan marah kalau tahu. Ia memang agak dimanja oleh ayah dan ibunya, mungkin karena tubuhnya yang ringkih itu. Bahkan ayahnya suka marah kalau ia pulang dari main-main di sungai. Ayahnya cukup peka membaui amis air sungai dari aroma tubuhnya. Tetapi sore itu anak kecil kita ini tak ingat lagi pada larangan ayah ibunya. Yang ada di benaknya adalah dirinya berenang di kedung. Tampaknya mudah. Tinggal meluncur dan mengayunkan tangan dan kaki bergantian. Pekerjaan sepele.

Sepanjang perjalanan ke sungai sore itu ia tak henti-hentinya mengoceh dan tertawa-tawa. Kakaknya dan saudara-saudara sepupunya yang lain tak henti-henti mengolok-oloknya. Tapi ia tak marah. Anak itu tahu kalau saudara-saudaranya itu sebenarnya baik hati dan sayang padanya. Buktinya mereka tak jarang membuatkannya mainan dari kayu. Mobil-mobilan dengan roda dari cabang randu yang bulat, atau kayu ketapel dari akar kayu petai cina yang diukir. Mereka lebih suka membuatkannya mainan daripada membiarkannya ikut mereka bermain. Tetapi sore itu mereka adalah saudara-sudara sepupu yang baik. Sore itu ia begitu tak sabar. Ia ingin cepat sampai ke kedung sungai.

Di kedung sore itu cukup ramai. Anak-anak berenang-renang. Di kampungnya orang biasa mandi di sungai. Jarang yang memiliki sumur. Ayahnya punya sumur timba dengan kedalaman dua-puluhan meter. Mandi di sumur tentu jauh kalah asyik dibandingkan mandi di sungai. Di sungai anak-anak bisa berenang. Di sumur neneknya suka menggosok badannya kuat-kuat dengan batu kali atau serat gambas sampai kulitnya perih sambil menyanyikan tembang mantera agar ia menjadi anak yang sehat dan dijauhi penyakit. Dan sore ini ia akan mandi di kali. Bayangkan!

Dilepaskannya pakaian seperti anak-anak yang lain. Telanjang bugil, didekatinya tepi air. Dadanya mulai berdebar-debar. Kecemasan mulai menampakkan wajahnya. Saat itu ia baru sadar ia tak bisa berenang dan kedung itu cukup dalam. Paling tidak sedalam tinggi orang dewasa. Kakinya mulai gemetar. Salah satu sepupunya meyakinkannya bahwa air itu aman sambil menunjuk seorang anak yang asyik berenang-renang. Anak yang sedang berenang itu jauh lebih kecil tubuhnya. Anak kecil kita ini pun mulai terbakar semangatnya. Dibulatkannya hatinya. Dijejakkannya kakinya memasuki air. Kakaknya sudah berenang agak jauh. Kuduknya mulai meremang. Separuh badannya sudah terendam air. Ia pun mulai merengek-rengek memanggil kakaknya di seberang yang lain. Anak kecil kita mulai panik. Tapi ia berusaha keras tidak menangis. Kakaknya akan sangat jengkel kalau ia cengeng. Tapi ia sungguh panik.

***

Akhirnya sang kakak tak tega membiarkan adiknya sendirian di pinggir kedung. Dihampirinya sang adik. Dibimbingnya menuju air. “Ayo, kapan kamu bisa berenang kalau cuma berdiri di pinggir saja?” kata sang kakak saat itu. Sang adik, anak kecil kita itu, menurut. Ia mengagumi kakaknya itu, meski sering menjengkelkannya juga. Sambil berpegangan pinggang kakaknya ia ikut meluncur ke air yang lebih dalam. Sebentar lagi akan sampai ke seberang kedung. Sepertinya tangannya berubah menjadi tang besi yang menjepit erat pinggang kakaknya. Sebentar lagi akan sampai ke seberang kedung. Sebentar lagi.

Entah apa sebabnya, kakaknya mulai oleng. Pegangan lepas. Kakaknya panik dan mencoba menyeimbangkan dirinya. Anak kecil itu terlepas. Megap-megap di kedalaman kedung. Orang-orang ikut panik. Entah berapa teguk air sungai yang coklat itu meluncuri tenggorokannya. Ia tak ingat lagi. Kepalanya pening. Gelap. Panik. Semuanya menjadi tak terbayangkan. Hidungnya sakit kemasukan air yang terhirup saat ia gelagapan mencari udara. Mungkin ia akan mati tenggelam di sungai. Tapi ia tak ingat apa-apa. Ia tak ingat tentang pemecah batu yang mati tertimbun tebing sungai yang longsor. Ia tak ingat tentang bangkai orang yang hanyut terbawa arus. Ia bahkan tak ingat kalau ia sedang tenggelam dan hampir mati. Ia tak ingat untuk berdoa atau menyebut nama Allah. Guru agamanya mengajarkan orang yang mati tanpa menyebut nama Allah akan masuk neraka.

Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh pinggangnya. Seseorang dewasa yang kebetulan akan memandikan sapinya mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas air. Ia tak jadi mati sore itu. Wajah anak kecil kita pucat pasi. Nafasnya belum teratur. Dadanya kembang-kempis minta udara. Kakaknya juga pasi. Juga sepupu-sepupunya yang lain. Seeorang mengenakan pakaiannya. Ia menggigil, tetapi bukan karena kedinginan. Saudara-saudaranya yang lain pun bergegas mengenakan pakaian mereka. Cukup sudah acara berenang sore itu. Ketakutan mencekam perjalanan pulang sore itu. Bukan, bukan ketakutan pada setan atau hantu, melainkan takut kalau peristiwa itu ketahuan ibu. Semua diam di sepanjang jalan pulang. Diam-diam sepakat untuk merahasiakan kejadian itu.

Sejak saat itu mimpi buruk anak kecil kita berubah dari mimpi tentang hantu menjadi mimpi hanyut dilarung banjir bah. Ia menjadi penakut. Bukan pada setan atau hantu, tapi pada air dalam. Sampai bertahun-tahun kemudian. Masih tertulis di puisi-puisinya kelak.

*Penulis adalah seorang pecinta puisi, tinggal di Yogyakarta.

Glosarium:
kedung = bagian sungai yang dalam
gambas = sejenis sayuran yang jika dibiarkan tua dan kering akan tinggal serat seperti sabut putih


Ia suka sekali menggambar. Ia suka melihat kakaknya menggambar tugas pelajaran seni rupa di SMP. Kakaknya memakai cat air. Ia baru boleh memakai pensil warna. Cat air harganya mahal. Ia baru boleh memakai cat air kelak jika sudah masuk SMP.

1 Reply

Reply