52. Subjektivitas Redaktur/Hakim Puisi

Jika kaulihat di halaman puisi koran bergengsi hanya ada satu-dua penyair ditampilkan, itupun penyair-penyair tertentu yang dipilih dengan alasan tertentu, maka jangan terlalu yakin karya-karya mereka itu terpilih secara objektif, Penyairku. Demikian juga halnya dalam sayembara.

Percayalah, puisi memiliki hukum-hukumnya sendiri yang misterius. Maka jangan pernah percaya sebuah puisi bisa dinilai secara objektif. Semua pembacaan puisi adalah subjektif, baik oleh seorang kritikus maupun cuma seorang redaktur puisi.

Tugasmu, Penyairku sayang, adalah menulis puisi, demi puisi saja.

Reply