57. Beragama (dengan) Puisi

MENURUTKU, Penyairku sayang, setiap puisi adalah religius selama penyairnya religius, tanpa harus dilabel “Puisi Religius”. Religius itu tidak identik dengan Islam(i). Ia bisa mewakili agama apa saja. Juga tidak perlu dipandang secara lebih tinggi atau rendah dibandingkan puisi (bertema) lain.

Benar, soal religius atau tidak hanyalah persoalan tema yang hendak kauangkat dalam sajakmu. Lalu, Penyairku, mengapa mesti ‘membatasi’ anggota sidang pembacamu dengan label yang ‘eksklusif’?

1 Reply

  1. adly Reply

    mungkin karena panggilan jiwa dan kata kata di ujung lidah hanya menyampaikan rasa, namun terasa untuk kumpulan yang banyak sisa 🙂

Reply