Chairil Anwar Sudah Mati (Sebuah Fiksi untuk Puisi)

Di perjalanan puisiku ini pernah singgah aku di sepucuk monumen di sebuah simpang. Konon monumen itu adalah tempat suci para penyair. Ada 99 penyair kulihat bersimpuh taklim di umpak monumen itu sambil melafalkan sebuah nama. Nama itu tampaknya begitu suci, mungkin ia serupa nabi bagi para penyair itu. Dari 99 penyair itu mungkin hanya ada satu-dua saja yang benar-benar mengerti mengapa mereka berziarah ke monumen tersebut, sisanya hanya mengikuti tradisi yang diajarkan oleh guru-guru sekolah mereka atau mengikuti mitos yang ditularkan oleh penyair-penyair pendahulu mereka.

Satu-dua penyair yang mengerti itu berziarah untuk mengenang betapa sialnya orang yang dipuja-puji para penyair tolol yang tak tahu mengapa mereka menyembah-nyembahnya, dibuatkan monumen pula. Monumen yang semakin lama semakin gripis, cuil di sana-sini. Penyair-penyair tolol, para peziarah buta itu, sering kali mencuri segempil batu monumen itu untuk token, tanda perjalanan kepenyairan mereka, menjadi semacam ajimat yang dianggap sakti.

***

Di negeri arwah, seorang penyair semasa hidupnya sedang asyik mengutuki gatal-gatal kulitnya sambil menangis. Dilihatnya sajak-sajak dan teks-teks pidatonya, sedikit karya-karya yang ditinggalkan semasa hidupnya, hanya disimpan di pusat dokumentasi yang miskin-pengunjung-kaya-debu dan di buku pelajaran anak sekolah yang membacanya sambil bersungut-sungut. Kuburannya terbengkalai. Namanya dicatut di sana-sini, dibicarakan dengan meriah di forum-forum diskusi dengan sedikit sekali membahas karya-karyanya itu. Ingin rasanya dulu ia menyembunyikan saja nama yang

membawa sial itu.

Semangat yang dulu memperlambat kematiannya kini dibingkai dalam trofi kejuaraan baca puisi 17 Agustusan. Belum lagi penyair-penyair tolol yang bersembahyang di kaki monumen dirinya. Sungguh sialan orang yang membuat monumen sialan yang disembah-sembah para penyair sialan itu.

Namun sepercik harapan tumbuh ketika dilihatnya masih ada satu-dua orang yang diam-diam mengencingi monumen itu. Mereka telah mengerti. Tetapi serentak ia pun sedih mengingat satu-dua orang itu sudah beranjak tua dan sebentar lagi mati tanpa sempat (atau mau?) menyadarkan penyair-penyair tolol yang masih juga merapalkan namanya sebelum menulis sajak-sajak tolol mereka. Mungkin satu-dua orang yang mengerti itu takut kalau 97-98 penyair tolol itu mengerti maka monumen itu akan pudar pesonanya berganti dengan monumen mereka, satu-dua orang penyair itu, sendiri. Tak ada lagi yang bisa dikencingi.

Di saat yang sama ia, penyair di negeri arwah itu, senang karena sebentar lagi ia tak akan sendiri. Akan ada satu-dua orang yang menemani.

2003


Di saat yang sama ia, penyair di negeri arwah itu, senang karena sebentar lagi ia tak akan sendiri. Akan ada satu-dua orang yang menemani.

Please follow and like us:

Reply