Sajak Keluhan Jumat Pagi

sajak tak pernah benar-benar menjadi puisi seperti bayang-bayang tak pernah menjadi nyata begitulah penyair bermimpi seolah membaca realita padahal hanya siluet yang dilihatnya menjelang senja namun puaslah hati penyair jika kata-kata berhasil disusunnya menjadi monumen egonya yang menjulang: inilah puisi, kata penyair bangga hatinya seperti anak yang dimanja oleh puja-puji ibu dan bapa maka menulislah sang anak manja bayang-bayang sepanjang hidupnya yang hanya bayang-bayang semata sementara puisi semakin jauh dari jangkauannya dan penyair semakin terlena oleh kebanggaan namanya berkibar di langit bayang-bayang lalu seperti penghuni gua plato yang marah tetapi penyair tetap besar kepalanya dan batu hatinya mencintai bayangan yang rajin dituliskannya dalam sajak-sajak yang puitis sedangkan puisi semakin jauh tertinggal sehingga sajak tak lagi puisi dan penyair tak lagi menuliskan puisi hanya racau kata-kata yang disusun dengan ahli sedang puisi telah lupa pada dirinya sendiri dan sajak, hanya sajak, bertebar di seluruh negeri dan penyair senyum-senyum sendiri seperti mitos narcissus di tepi kolam menunggu akhir tragikomedi menunggu babak berganti

2003

Reply