65. Kita Adalah Pujangga Ataupun Bukan

PENYAIRKU, ada sepenggal masa di mana pengarang (seperti kita?) begitu dimuliakan sehingga identik dengan orang suci bijak bestari. Kata-katanya begitu tinggi nilainya sehingga hanya dimengerti oleh mereka yang berilmu tinggi pula. Kata-kata itu tak jarang dipahami sebagai ajaran moral yang dianggap sakral. Kaum kita itu pada masanya disebut sebagai pujangga atau empu atau sebutan lain yang sepadan. Biasanya mereka berasal dari kasta suci setara brahmana atau resi.

Masa kini. Rupanya masih banyak kaum pengarang ini yang terlena dengan romantisme masa lalu itu dan masih meyakini benar bahwa pekerjaan mengarang (sastra) merupakan misi kenabian yang diwahyukan kepada mereka. Karena itu mereka pun merasa memiliki otoritas untuk mengawal gerbang-gerbang moral masyarakat (pembaca). Maka risihlah mereka ketika muncul segolongan kaum pengarang yang menuliskan apa saja dengan bebas, tak peduli dengan nilai-nilai yang diyakini oleh kaum yang terdahulu itu serta merayakan pluralitas. Formalitas, nilai-nilai konvensional tentang moralitas yang ‘adiluhung’, otoritas estetik, dan lain-lain pembakuan diingkari oleh kaum pengarang baru ini.

Di mana kita akan berpijak, Penyairku? Mari kita tanyakan pada pembaca..

Reply