Blues Rumah yang Terbakar

dan ruang teduh tak pernah benar-benar kita niatkan sebagai rumah. hanya persinggahan selepas lelah. pancang dusta dan diam kita tak pernah kita sadari hingga kabut tiba dan di ketinggian Merbabu hati kita angin menjadi begitu terasa. api perapian terlalu panas bagi ruang kecil kita sedangkan di luar teramat dingin. apakah yang tersisa ketika bara menyala di luar kuasa?

atap daun ilalang kering tersulut tanpa kita tahu kapan hujan kabut akan tiba. telah kudustakan hatiku agar api menyala karena cinta tak jinak oleh ketakutan kanak-kanak. karena hanya api yang akan melebur semua menjadi debu arang. dan jika cinta itu sungguh-sungguh nyata, biarlah akan kukais di reruntuhan abu. meski tak lagi ada biji akan tumbuh, hanya tanah cengkar oleh dendam. lalu akan kutelusur jejakmu yang lenyap di tanah lembab. agar engkau kembali terbang tanpa harus terjerat tambang layang. dan aku akan memandangi kepakmu dengan senyuman dan jejalur air di pipiku yang hangus arang.

rumput akan tahu bila saat doa-doa diterbangkan. bahkan jika bocah lelaki dirundung manja suatu saat kelak tumbuh dewasa, hingga ia menemukan di mana hikmah tersimpan. saat itu ia takkan lagi terheran oleh ilusi di panggung Puisi. kenyataan selalu sederhana hingga tipuan optik membuatnya musykil. begitulah selalu cerita tentang cinta. fatamorgana di terik padang tandus. di negeri hati.

Reply