66. Jelah Puisi

PENYAIRKU, dalam suratmu terakhir kubaca lelahmu. Mungkin saatnya berteduh di persinggahan sejenak. Merenungkan hal-hal, meski tak harus kauungkappamerkan sajak-sajak terbarumu, asalkan masih tetap kautuliskan sejarah perjalananmu. TUHAN terlalu lambat menjawab pertanyaanmu, katamu. Mungkin juga kita yang terlalu buru-buru, tak?

Reply