Sajak Ladang Kemarau

o ibu,

rengkah sudah ladang-ladangku oleh kemarau

sungsang musim negeri ini semakin ngilu

burung sendu hilang kicau

menguning dedaun dan rumput jalu

o anak,

air mataku habis sudah

tercerap serat tikar sajadah

langit telah merebut kandung rahimku

jantung ibu telah renta oleh dukamu

kulitku panggang kini, o ibu

dari bara di tungku dadaku

membakar rumah-rumah negeri

meledakkan kota-kota

gunung-gunung

kepala

biarkan keringatmu menguap

bersama airmataku, o anak

karena bapa telah lama pulang

ke halaman rumah masa kecilnya

tinggallah kita kini

saksi mata luka hati

bapaku bapa kami, o ibu

biarlah kembali ke masa lalu

kulitku tembaga, tulangku perunggu

hangus oleh hamil waktu

darahku riam tak kunjung tumpah

dada telah koyak oleh amarah

tapi masih ada bunga di ujung senja

tempat kusimpan cita-cita, o anak cinta

mawar kusemai di sibak rumpun ilalang

agar merebak kelopaknya saat malam menjelang

dan di ujung daun di ujung duri

biar embun menjebak matahari

aku rindu, o ibu

amis manis air susumu

tapi sejarah telah menyapihku

dari buai belah dadamu

sedang kelaminku telah tanggal

oleh mesiu ambisi yang gagal

kuburlah, o anak dendam

kesumatmu ke liang rahimku

mawar sebentar lagi ranum

padanya kutitipkan hasratku

tempat kelak kaulihat lagi

ladang-ladangmu bertunas umbi

1 Reply

  1. yuyun Reply

    om ts, aku suka puisi ini. sendu seperti lagu melayu.
    (more comments later yaa..)

Reply