68. Meredam Gejolak Demi Puisi

KEKALUTAN hidup yang kaurasakan, wahai Penyairku, mestilah kaucerna sebagai makanan berserat tinggi. Memang kadang-kadang tak enak, sebah terasa. Namun, janganlah menyerah karena ketika air mata mengering, akan kaudapati butir-butir mutiara menjelma darinya. Butir-butir yang akan bertutur sendiri dalam sajak-sajakmu.

Kadang-kadang kita perlu menahan diri sejenak agar tak tumpah air mata mentah kita dalam sajak-sajak yang kita cipta, agar tak mentah pula syair yang kita gubah. Bukan upaya yang mudah, kutahu, tetapi layak kita olah sepenuh lelah.

Meredam sakit betapa pun redamnya, selalu layak untuk sebuah sajak. Sajak yang kuat.

(Maaf, mungkin takkan kautemukan sajak semacam ini di sini, Penyairku sayang. Kita sama-sama maklum, kita ini adalah pejalan yang sama-sama belum mencapai titik.)

Reply