69. Void-Solid Equilibrium

KETIKA suatu masa atmosfer di sekelilingmu penuh pejal dengan hal-hal menarik, begitu dinamik dan vital, grafik yang begitu fluktuatif menggemaskan; saat itu Puisi menjadi begitu berkuasa dan kuat. Puisi menjadi nafsu yang tak terbendung dan engkau, Penyairku sayang, seperti hanyut dalam alir bahasa. Udara seperti padat dengan hawa hidup, sarat dengan bacaan bagi jiwamu yang terus tumbuh. Lalu ketika energi terkuras habis, lalu lelahlah jiwa-ragamu.

SAAT itu kemudian cuaca berubah, udara begitu hampa sehingga paru-parumu kurang udara. Otak menjadi serasa kosong seperti jiwa yang nelangsa. Semua semangat menguap seperti ruang dansa yang sepi seusai pesta. Tak ada Puisi kauhirup dalam nafasmu. Begitulah kau mulai mengutuk cinta orang-orang yang pergi, meninggalkanmu sendiri bersama ketiadaan. Tak ada sajak, tiada Puisi saat ini.

BEGITULAH, Penyairku sayang, cara semesta bekerja menyeimbangkan dirinya agar tak berat sebelah komposisi di kanvas yang begini luas. Kekosongan-kepejalan menuju keseimbangan. Maka tiada saran lain kecuali menikmatinya. Tak?

Reply