74. Belajar Telanjang di Remang Cahaya Bahasa

KONON SEORANG empu puisi bersabda, “Karena kejujuran sejati selalu telanjang, maka telanjanglah dalam Puisi!”

Mungkin kita bisa menafsirkannya begini, Penyairku, biarlah kejujuran itu menjadi ruh dari puisimu. Hindarkan kosmetika yang tak perlu. Biarlah payudara tampak apa adanya tanpa harus dihiasi krim coklat atau lelehan fla. Tapi, ketelanjangan demikian bisa dikecam oleh kelompok ekstrem agamis. Pun, puisi tak harus porno, bukan?

Maka, dengan ketrampilan seorang fotografer, mainkanlah (pen)cahaya(an) sedemikian rupa sehingga ketelanjangan tak tertutup sekaligus tak tampak vulgar dan rendah. Ketrampilan demikian, Penyairku, hanya dapat kaupelajari di sepanjang perjalananmu menempuh Puisi. Mari kita telanjang!

2 Replies

  1. Jois Lumbantobing Reply

    ngeri banget, takcocok dengan hati, Judul bagus tp ceritanya aduuuuuh

  2. HAH Reply

    Om TSP, mulai telanjang lagi. Asyiiiik.

Reply